Berita

Penyintas Banjir Bandang Aceh Tamiang Masih Tinggal di Gubuk, BNPB Beri Tenggat 5 Hari untuk Selesaikan Huntara

13
×

Penyintas Banjir Bandang Aceh Tamiang Masih Tinggal di Gubuk, BNPB Beri Tenggat 5 Hari untuk Selesaikan Huntara

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ratusan penyintas banjir bandang di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, masih bertahan di gubuk tidak layak huni sejak bencana menerjang akhir tahun lalu. Kepala BNPB Suharyanto memberi tenggat lima hari kepada pengembang untuk merampungkan pembangunan hunian sementara (huntara) agar warga bisa segera pindah.

“Di sini masyarakat dulunya tidak punya rumah dan menyewa tempat tinggal. Begitu kena banjir, rumah yang disewa hancur, mereka bingung mau ke mana. Dana tunggu hunian pun mereka tidak dapat, karena mereka sewa dan tidak punya rumah. Sehingga BNPB mengambil langkah inisiatif membangun huntara untuk mereka,” kata Suharyanto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (17/7).

Penyewa Rumah Jadi Korban yang Terabaikan Bantuan

Nasib warga Desa Sukajadi terbilang pelik. Berbeda dari penyintas lain yang punya rumah dan bisa mendapat dana stimulan perbaikan, warga di sini berstatus penyewa. Rumah yang mereka sewa rusak berat diterjang banjir bandang, sementara mereka tidak berhak atas dana tunggu hunian karena tidak memiliki aset tanah maupun bangunan. BNPB mengakui kelompok ini tidak memenuhi syarat bantuan dana pemerintah yang berlaku.

Sejak bencana terjadi, mereka bertahan di gubuk. Tidak ada listrik memadai, tidak ada sanitasi layak. Itulah mengapa huntara di Desa Sukajadi menjadi prioritas mendesak.

Suharyanto, yang juga menjabat Wakil Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, menegaskan pembangunan harus rampung kurang dari seminggu ke depan. Ia menyampaikan peringatan langsung kepada pengembang yang mengerjakan proyek tersebut.

97 Unit Huntara Tambahan Diusulkan Bupati

BNPB belum merinci total unit huntara yang sedang dibangun di Desa Sukajadi maupun jumlah pasti warga yang menunggu. Namun Satgas PRR mencatat adanya usulan penambahan 97 unit huntara dari Bupati Aceh Tamiang, yang sudah diakomodasi dalam program ini.

Kebutuhan huntara di wilayah ini memang besar. Banjir bandang akhir 2024 lalu meluluhlantakkan permukiman di sejumlah kecamatan sekaligus.

5.947 Rumah Rusak Dapat Bantuan Stimulan di Empat Kecamatan

Kepala Pos Komando Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal Zakaria Ali, melaporkan distribusi bantuan stimulan perbaikan rumah sudah berjalan untuk warga terdampak di empat kecamatan: Rantau, Karang Baru, Bandar Pusaka, dan Bendahara.

Total rumah penerima bantuan mencapai 5.947 unit, terdiri dari 2.336 rumah rusak ringan, 1.722 rumah rusak sedang, dan 1.889 rumah rusak berat. Kecamatan Rantau mencatat jumlah penerima terbanyak, disusul Karang Baru, Bandar Pusaka, dan Bendahara.

Mayoritas kerusakan masuk kategori ringan, meski angka rusak berat hampir menyentuh dua ribu unit — angka yang menggambarkan skala kehancuran akibat banjir bandang tersebut.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma