Berita

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar, Pengusaha Mulai Khawatir Bisnis Tak Bisa Bertahan

11
×

Rupiah Jebol Rp17.500 per Dolar, Pengusaha Mulai Khawatir Bisnis Tak Bisa Bertahan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Tekanan nilai tukar rupiah yang kini menembus Rp17.500 per dolar AS mulai dirasakan langsung oleh kalangan pelaku usaha. Bukan sekadar angka di layar monitor pedagang valuta asing, pelemahan ini memantik keresahan nyata soal kelangsungan bisnis mereka ke depan.

Rupiah yang terus tergerus terhadap dolar Amerika Serikat kini sudah melewati ambang psikologis yang selama ini diwaspadai banyak pihak. Level Rp17.500 per dolar menjadi alarm serius, terutama bagi pengusaha yang mengandalkan bahan baku impor atau memiliki utang dalam denominasi mata uang asing.

Pengusaha Cemaskan Biaya Produksi Melonjak

Ketika nilai tukar rupiah melemah sedalam ini, ongkos produksi bagi industri yang bergantung pada impor otomatis ikut membengkak. Bahan baku yang dibeli dengan dolar kini membutuhkan lebih banyak rupiah untuk jumlah yang sama. Margin keuntungan tergerus. Sejumlah pengusaha mengungkapkan kecemasannya terhadap kelangsungan operasional bisnis mereka di tengah tekanan kurs yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kondisi ini menjadi ujian berat bagi sektor usaha yang belum sepenuhnya pulih dari berbagai tekanan ekonomi sebelumnya. Opsi menaikkan harga jual kepada konsumen pun bukan pilihan mudah, mengingat daya beli masyarakat yang juga masih terbatas.

Rupiah di Level Terendah, Tekanan Berlanjut

Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS mencerminkan tekanan yang datang dari berbagai sisi. Ketidakpastian ekonomi global, penguatan dolar AS di pasar internasional, serta dinamika domestik turut menekan kurs rupiah ke posisi yang membuat banyak kalangan waspada.

Bagi masyarakat umum, dampak pelemahan rupiah biasanya terasa bertahap lewat kenaikan harga barang-barang yang komponen impornya tinggi, mulai dari elektronik, bahan bakar, hingga kebutuhan pokok tertentu.

Situasi ini mendorong pelaku usaha untuk menghitung ulang proyeksi keuangan mereka, sekaligus mendorong desakan kepada pemerintah dan otoritas moneter agar segera mengambil tindakan untuk menstabilkan kurs.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Arif Budiman