Berita

Di Balik Angka 5,61 Persen: Kerentanan Fundamental Ekonomi Indonesia yang Tersembunyi

3
×

Di Balik Angka 5,61 Persen: Kerentanan Fundamental Ekonomi Indonesia yang Tersembunyi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen terlihat solid di permukaan, namun para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa di balik capaian itu tersimpan sejumlah kerentanan struktural yang belum terselesaikan dan sewaktu-waktu dapat menekan kinerja perekonomian nasional.

Pertumbuhan Tinggi Belum Tentu Cermin Ekonomi Sehat

Angka pertumbuhan ekonomi memang kerap dijadikan tolok ukur utama kesehatan fiskal suatu negara. Tapi ukuran itu tidak selalu menangkap seluruh gambaran. Pertumbuhan yang terfokus pada sektor konsumsi domestik atau komoditas tertentu, misalnya, rentan terhadap guncangan eksternal seperti perlambatan ekonomi global atau volatilitas harga di pasar internasional.

Indonesia selama ini memang bertumpu besar pada konsumsi rumah tangga sebagai mesin pertumbuhan. Ketika daya beli masyarakat terganggu, baik karena inflasi, kenaikan suku bunga, maupun pelemahan lapangan kerja, fondasi pertumbuhan itu langsung goyah.

Struktur Ekspor yang Masih Bergantung pada Komoditas Mentah

Salah satu titik lemah yang kerap disorot adalah struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas primer. Batu bara, kelapa sawit, dan nikel menyumbang porsi besar devisa, tetapi harganya sangat fluktuatif mengikuti siklus pasar global. Ketika harga komoditas anjlok, surplus neraca perdagangan bisa menyempit dalam waktu singkat.

Industri manufaktur yang semestinya jadi penyeimbang belum tumbuh cukup kuat untuk mengimbangi ketergantungan itu. Nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam masih terbatas, sehingga sebagian besar keuntungan dari kekayaan alam tersebut tidak terserap optimal di dalam negeri.

Utang Luar Negeri dan Tekanan Nilai Tukar

Kerentanan lain datang dari sisi fiskal dan moneter. Posisi utang luar negeri yang terus meningkat membuat Indonesia rentan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS secara otomatis menambah beban pembayaran utang dan bunga, sekaligus mendorong kenaikan harga barang impor, termasuk bahan baku industri.

Tekanan itu menjadi berlipat ganda ketika Bank Sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, mempertahankan suku bunga tinggi. Capital outflow, atau pelarian modal asing dari pasar keuangan Indonesia, menjadi ancaman nyata yang membayangi stabilitas nilai tukar.

Ketimpangan Pertumbuhan Antardaerah Masih Lebar

Angka pertumbuhan nasional juga tidak mencerminkan pemerataan. Sebagian besar aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kawasan timur Indonesia, meski kaya sumber daya alam, belum mendapat manfaat pertumbuhan yang setara. Ketimpangan ini menciptakan risiko sosial tersendiri yang pada akhirnya bisa memengaruhi stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Investasi infrastruktur yang gencar beberapa tahun terakhir memang mulai membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil. Namun konektivitas fisik saja belum cukup tanpa diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemudahan berusaha di daerah.

Dengan segala kompleksitas itu, angka pertumbuhan 5,61 persen memang patut dicatat sebagai prestasi, tapi juga harus dibaca dengan hati-hati. Pemerintah dan pelaku usaha masih dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: memperkuat fondasi ekonomi agar tahan banting ketika tekanan eksternal datang.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman