Berita

Pedagang Tanah Abang Mengeluh Omzet Anjlok 50%, Pembeli dan Lapak Terus Berkurang

2
×

Pedagang Tanah Abang Mengeluh Omzet Anjlok 50%, Pembeli dan Lapak Terus Berkurang

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (12/5/2026) siang, lorong-lorong Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA) di Jakarta Pusat nyaris senyap. Yang terlihat bukan pembeli yang berdesakan memilih kain atau baju, melainkan para pedagang yang sibuk menyorot dagangan mereka lewat kamera ponsel untuk siaran langsung di TikTok dan Shopee Live.

Suasana itu jauh berbeda dari hanya beberapa hari sebelum Lebaran, ketika pasar ini masih sesak pengunjung. Kini, kuli angkut yang melintas dengan gerobak kosong pun lebih mudah ditemukan daripada pembeli.

Pedagang Blok A Berkurang 30%, Lantai Atas Lebih dari Separuh Tutup

Surono, pedagang batik dan pakaian muslim pria yang sudah lama berjualan di Tanah Abang, tak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pasar yang dulu dipadati ibu-ibu dari berbagai penjuru kota kini kehilangan denyutnya.

“Era kejayaan Tanah Abang sejatinya sudah berakhir, dulu para ibu-ibu berbondong-bondong ke sini, sekarang tinggal sedikit yang masih mau ke sini,” kata Surono saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Surono mencatat jumlah pedagang di Blok A sudah menyusut sekitar 30%. Di lantai-lantai atas, kondisinya lebih parah. “Pedagang, terutama yang lama-lama sudah beralih jualan lain, ya berkurang 30% lah ya, apalagi yang di atas (lantai 7), bisa lebih dari 50%,” terangnya.

Pantauan di lantai 3 hingga 6 Blok A dan B memperlihatkan sejumlah ruko yang sudah tutup permanen. Ruko-ruko di dekat Stasiun Tanah Abang, yang dulu menjadi salah satu titik paling ramai, kini mayoritas sepi pengunjung.

Omzet Limei Terpangkas Separuh, Pelanggan Lama pun Kurangi Belanja

Tekanan paling terasa dirasakan para pedagang pakaian grosir yang mengandalkan pembeli reseller dari luar Jabodetabek. Limei, pedagang pakaian anak-anak, mengaku omzetnya sudah turun hingga 50%.

“Omzet, wah sudah turun banget, ada kali 50%, ya ada separonya lah,” katanya.

Pembeli baru hampir tidak ada. Yang tersisa hanya pelanggan lama, itupun dengan jumlah belanja yang terus menciut. “Kalau pembeli yang bukan langganan, sudah semakin sedikit, yang langganan masih ada dan berkurang, tapi beli barangnya makin berkurang, dari sebelumnya bisa 1 karung, sekarang cuma setengah karung. Ada juga yang sebelumnya beli lusinan, sekarang cuma beli setengah lusin,” jelas Limei.

Limei menjelaskan pelanggan tetapnya umumnya membeli barang di Tanah Abang untuk dijual kembali di daerah-daerah luar Jabodetabek. Karena penjualan di lapak mereka sendiri juga lesu, jumlah pesanan yang masuk ke Limei pun ikut menyusut.

Live Streaming Jadi Pelarian, tapi Bukan Solusi Semua Pedagang

Sebagian pedagang beradaptasi dengan berjualan melalui siaran langsung di platform e-commerce. Di beberapa lantai PGMTA, pemandangan pedagang yang duduk di depan rak pakaian sambil berbicara ke kamera sudah menjadi hal biasa.

Namun tidak semua pedagang mampu atau mau beralih ke cara itu. Sebagian memilih bertahan dengan cara lama, menunggu pembeli yang kian hari kian jarang datang.

Kondisi yang terpantau langsung oleh CNBC Indonesia pada Selasa (12/5/2026) itu mencerminkan tekanan panjang yang sudah berlangsung di Tanah Abang sejak perdagangan daring merebut pembeli dari pasar fisik. Bagi pedagang seperti Surono dan Limei, pertanyaannya bukan lagi soal kapan ramai seperti dulu, melainkan sampai kapan mereka masih bisa bertahan di sana.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Surya Dharma