Berita

12 Tahun Festival Jondang Desa Kawak Jepara: Bola Api dan Perang Api Pukau Ribuan Warga

13
×

12 Tahun Festival Jondang Desa Kawak Jepara: Bola Api dan Perang Api Pukau Ribuan Warga

Sebarkan artikel ini

Teras News — 25 desa wisata aktif — itulah jumlah yang kini tercatat di Kabupaten Jepara, dan Desa Kawak, Kecamatan Pakisaji, berpotensi menjadi salah satu yang paling menonjol berkat Festival Jondang yang tahun ini memasuki edisi ke-12. Puncak festival berlangsung Selasa (21/4) malam, menghadirkan atraksi sepak bola api dan perang api yang memukau ribuan warga yang hadir.

12 Tahun Tradisi Pasca-Panen Raya

Festival Jondang bukan sekadar hiburan. Petinggi Desa Kawak, Eko Heri Purwanto, menjelaskan bahwa tradisi ini tumbuh sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah panen raya dan telah berjalan konsisten selama satu dasawarsa lebih.

“Festival ini sudah berjalan selama 12 tahun dan menjadi tradisi masyarakat setelah panen raya. Puncak acara berupa sepak bola api, memiliki makna untuk menyatukan tiga dukuh di Desa Kawak. Api melambangkan semangat dan pengendalian amarah, untuk bersama-sama membangun desa yang lebih maju,” jelas Eko.

Tiga dukuh yang dimaksud selama ini kerap menjalani kehidupan sosial secara terpisah. Atraksi bola api menjadi simbol pemersatu, satu ritual yang mengikat ketiganya dalam semangat kolektif.

Pemerintah Jepara Dorong Desa Kawak Jadi Desa Wisata Aktif

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara, Ali Hidayat, hadir mewakili Bupati Jepara. Ia menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi seperti ini.

“Festival Jondang adalah kekayaan budaya yang luar biasa. Saat ini sudah ada 25 desa wisata di Jepara, dan ke depan harus terus ditambah. Desa Kawak memiliki potensi yang sangat baik, tinggal bagaimana mengemasnya melalui promosi, kolaborasi dengan UMKM, BUMDes, serta masyarakat, sehingga tradisi ini tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi desa dan kebanggaan Jepara,” kata Ali.

Festival Jondang sendiri merupakan bagian dari rangkaian sedekah bumi (ritual syukuran hasil bumi yang lazim digelar komunitas agraris di Jawa) Desa Kawak. Ali menyebut kekayaan budaya semacam ini tidak dimiliki semua daerah, sehingga pemerintah kabupaten mendorong desa-desa untuk mengembangkan potensi lokalnya melalui program desa wisata aktif.

Perang Api, Atraksi yang Tak Ada di Tempat Lain

Atraksi perang api menjadi daya pikat utama malam itu. Peserta saling lempar bola api dan menggelar atraksi berbasis nyala api di lapangan terbuka, disaksikan warga dari berbagai penjuru desa. Tidak ada laporan insiden dalam pelaksanaan atraksi berisiko tinggi ini.

Eko berharap festival tahunan ini mampu berjalan seiring dua tujuan sekaligus: melestarikan identitas budaya Desa Kawak dan menggerakkan ekonomi warga secara nyata. Kolaborasi dengan pelaku UMKM dan BUMDes disebut sebagai jalur yang akan terus dikuatkan ke depan.

Dilansir dari laporan Diskominfo Jepara/Diskomdigi Jateng.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma