Berita

JP Morgan Tempatkan Indonesia Peringkat 3 Dunia dalam Ketahanan Energi Global 2026

8
×

JP Morgan Tempatkan Indonesia Peringkat 3 Dunia dalam Ketahanan Energi Global 2026

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kamis (pertengahan 2026), sebuah laporan dari JP Morgan Asset & Wealth Management menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia dalam hal ketahanan energi global, melampaui puluhan negara besar lainnya di tengah guncangan harga energi yang tengah melanda pasar internasional.

Laporan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 itu ditulis oleh Michael Cembalest, Chairman of Market and Investment Strategy J.P. Morgan Asset & Wealth Management. Ia menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi final terbesar di dunia, yang secara kolektif mewakili 82 persen konsumsi energi global.

Indonesia Nomor Dua Dunia untuk Perlindungan Harga Energi

Dalam indikator Total Protection Factor, yang mengukur seberapa besar porsi energi suatu negara terlindungi dari fluktuasi harga minyak dan gas internasional, Indonesia menempati posisi kedua dunia, hanya di bawah Afrika Selatan.

Secara keseluruhan, ketika faktor ketergantungan impor yang rendah digabungkan dengan tingkat ketahanan energi yang tinggi, posisi Indonesia naik ke peringkat ketiga global.

“Ketika faktor ketergantungan impor energi yang rendah dikombinasikan dengan tingkat ketahanan energi yang tinggi, posisi Indonesia tetap impresif di peringkat ketiga global,” tulis Cembalest dalam laporan tersebut.

Batu Bara dan Gas Jadi Fondasi Kekuatan Domestik

Cembalest menunjuk dua keunggulan struktural Indonesia. Pertama, statusnya sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Kedua, posisinya sebagai produsen gas alam terbesar ke-13 secara global, dengan kapasitas produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik pada 2024.

“Keberagaman bauran energi nasional, yang mencakup tenaga air, panas bumi, dan biodiesel, membuat sistem energi Indonesia lebih tahan terhadap gejolak pada satu komoditas tertentu,” tulisnya.

JP Morgan juga mencatat Insulation Factor Indonesia mencapai 77 persen, salah satu yang tertinggi di antara 52 negara yang dianalisis. Angka ini mencerminkan kemampuan Indonesia memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya dari sumber dalam negeri sendiri.

Kondisi itu sangat berbeda dengan Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi dari luar negeri. Keempat negara tersebut justru masuk dalam daftar negara paling rentan terhadap guncangan energi global, bersama Italia, Spanyol, dan Belanda.

Tiga Risiko yang Masih Menghantui Indonesia

Laporan itu tidak sepenuhnya memuji. JP Morgan menyoroti tiga tantangan nyata yang membayangi ketahanan energi Indonesia ke depan.

Produksi minyak domestik terus menurun di saat konsumsi justru meningkat. Ketergantungan pada pembayaran impor energi dalam dolar AS membuat neraca pembayaran rentan terhadap pelemahan rupiah. Potensi lonjakan subsidi energi juga mengintai jika harga global bertahan tinggi dalam jangka panjang.

Ketiga faktor itu menjadi catatan risiko yang perlu diwaspadai meski posisi Indonesia secara keseluruhan jauh lebih kokoh dibanding mayoritas negara dalam daftar analisis JP Morgan.

Dilansir dari laporan JP Morgan Asset & Wealth Management, dikutip melalui Antara.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Arif Budiman