Berita

630 Ribu Petani Milenial Jawa Tengah Jadi Tumpuan Regenerasi, Mayoritas Petani Kini Berusia 40-60 Tahun

12
×

630 Ribu Petani Milenial Jawa Tengah Jadi Tumpuan Regenerasi, Mayoritas Petani Kini Berusia 40-60 Tahun

Sebarkan artikel ini

Teras News — Mayoritas petani di Jawa Tengah saat ini berusia antara 40 hingga 60 tahun. Di tengah ancaman krisis regenerasi itu, provinsi ini mencatat keberadaan sekitar 630 ribu petani milenial sebagai kekuatan baru sektor pangan.

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menyampaikan kondisi tersebut saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi pada Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial Jawa Tengah di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung, Jumat (25/4/2026). Acara itu mengumpulkan 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota serta 300 Duta Petani Milenial.

Petani Muda Tumbuh dari 2019, Kini Hampir 35 Ribu Orang

Jaringan petani muda di Jawa Tengah tumbuh signifikan. Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, menyebut jumlah anggota jaringan itu berkembang hingga hampir 35 ribu orang sejak 2019. Bukan angka kecil untuk sebuah gerakan yang baru berusia tujuh tahun.

Rayndra menyatakan apel ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara petani muda dan penyuluh pertanian. “Kami berharap kolaborasi ini semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata, bukan hanya di Jawa Tengah tetapi juga secara nasional,” katanya.

Perubahan stigma juga masuk dalam agenda gerakan ini. Pertanian kerap dipandang sebagai profesi terakhir, dan para pegiat petani milenial mendorong agar citra itu bergeser menjadi pilihan produktif bagi generasi muda.

Revisi RTRW untuk Lindungi Lahan Pertanian dari Alih Fungsi

Regenerasi petani saja tidak cukup jika lahan pertanian terus menyusut. Pemprov Jawa Tengah kini tengah merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) bersama kabupaten dan kota, dengan tujuan memastikan lahan pertanian tidak mudah beralih fungsi.

“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi. Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga,” jelas Sumarno.

Pengelolaan sumber daya air dan pelestarian daerah tangkapan air juga masuk dalam perhatian Pemprov, mengingat sistem irigasi sangat menentukan produktivitas lahan pertanian.

SDM Adaptif Teknologi Jadi Kunci

Sumarno menekankan bahwa petani muda yang lebih akrab dengan teknologi membuka peluang efisiensi produksi. “Regenerasi ini menjadi kunci. Dengan sumber daya manusia baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi petani milenial dan alumni pelatihan pertanian yang terus aktif di lapangan. “Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bentuk kontribusi nyata di lapangan. Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong anak-anak muda untuk mau bertani,” kata Sumarno.

Dilansir dari laporan Jateng Prov.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma