Teras News — £800 juta atau sekitar $1,08 miliar — itulah pendapatan yang berhasil dikumpulkan Inggris dari pajak layanan digital sebesar 2% sepanjang tahun keuangan 2024-2025. Kini, angka itu memicu ancaman tarif besar dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump secara terbuka memperingatkan Inggris agar mencabut pungutan tersebut, Sabtu (25/4). Jika tidak, Washington siap membalas dengan tarif tinggi atas produk-produk Inggris yang masuk ke pasar AS.
Pajak 2% Sasar Raksasa Teknologi AS seperti Google, Meta, dan Apple
Pajak yang memicu kemarahan Trump bukan kebijakan baru. Inggris telah memberlakukannya sejak 2020, menargetkan pendapatan dari mesin pencari, platform media sosial, dan pasar online yang mendapat keuntungan dari pengguna di Inggris. Perusahaan yang terdampak antara lain Alphabet (induk Google), Meta, dan Apple — semuanya raksasa teknologi Amerika.
Baca Juga:
Trump menyebut kebijakan ini sebagai bentuk pencari keuntungan mudah dengan mengincar perusahaan-perusahaan AS. Ia pun tidak segan melontarkan ancaman langsung.
“Kami telah mempertimbangkannya, dan kami dapat memenuhinya dengan sangat mudah hanya dengan mengenakan tarif besar pada Inggris, jadi mereka sebaiknya berhati-hati,” kata Trump, dikutip dari CNBC International.
“Jika mereka tidak menurunkan pajak tersebut, kami mungkin akan mengenakan tarif tinggi pada Inggris,” lanjutnya, tanpa merinci berapa besaran tarif yang ia maksud.
Pemerintah Inggris Bertahan, Pajak Ini Sumber Pendapatan Fiskal Penting
Pemerintah Partai Buruh yang kini berkuasa di Inggris tidak menunjukkan tanda-tanda mau mundur. Pajak digital itu justru dipandang sebagai sumber pendapatan fiskal yang relevan, mengingat hasilnya sudah terbukti: £800 juta masuk ke kas negara hanya dalam satu tahun keuangan.
Bagi warga Inggris biasa, ancaman tarif balasan dari AS berpotensi memperumit hubungan dagang dua negara yang selama ini erat. Inggris dan AS adalah mitra dagang besar, dan eskalasi ketegangan semacam ini bisa berdampak pada harga barang impor asal Amerika yang beredar di pasar Inggris.
Trump juga belum merinci sektor mana yang akan kena tarif, sehingga ketidakpastian itu sendiri sudah cukup membuat kalangan bisnis di kedua negara was-was.
Dilansir dari laporan CNBC Indonesia.
Editor: Arif Budiman