Berita

Produksi Minyak RI Baru Capai 576.700 Barel per Hari, Jauh dari Target Lifting Nasional

14
×

Produksi Minyak RI Baru Capai 576.700 Barel per Hari, Jauh dari Target Lifting Nasional

Sebarkan artikel ini

Teras News — Produksi minyak nasional rata-rata baru menyentuh angka 576.700 barel per hari (BPH) sepanjang Januari hingga April 2026, angka yang masih jauh di bawah target lifting pemerintah tahun ini sebesar 605.000 BPH. Realisasi tersebut mencerminkan tantangan besar yang masih dihadapi industri hulu migas Indonesia di tengah tekanan kondisi energi global.

Deputi Eksploitasi SKK Migas Surya Widyantoro mengungkapkan data itu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (21/5/2026). Ia menerangkan bahwa angka 576.700 BPH merupakan rata-rata harian yang dihitung hingga akhir April, karena data Mei masih berjalan.

“Produksi sampai dengan Januari-April year on year itu di 576.700 barrel oil per day, rata-rata yang April ini, sampai dengan April karena kita punya data akhir April harian yang Mei masih berjalan,” kata Surya.

Produksi KKKS Diprioritaskan untuk Kilang Pertamina

Di tengah gejolak harga minyak global, pemerintah mengarahkan seluruh produksi bagian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memenuhi kebutuhan kilang dalam negeri. Kebijakan ini mengikuti arahan langsung dari Presiden.

“Sekarang ini dengan kondisi global tadi dan mengikuti arahan Bapak Presiden bahwa produksi dan jatah KKKS itu dijual ke kilang Pertamina,” ujar Surya.

KKKS adalah perusahaan minyak dan gas yang beroperasi di Indonesia berdasarkan skema kontrak bagi hasil dengan pemerintah melalui SKK Migas. Selama ini, sebagian produksi bagian KKKS bisa dijual ke pasar ekspor, namun kebijakan baru mengarahkan agar pasokan domestik didahulukan.

Tiga Strategi Genjot Lifting, Termasuk Ancaman Cabut Izin Blok Masela

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan tiga strategi untuk mendongkrak lifting minyak. Pertama, intervensi teknologi pada sumur-sumur eksisting melalui Enhanced Oil Recovery (EOR), yaitu metode peningkatan produksi dengan menyuntikkan zat tertentu ke dalam reservoir untuk mengangkat lebih banyak minyak yang tersisa.

Kedua, mempercepat produksi dari lapangan migas yang sudah mengantongi persetujuan Plan of Development (POD). Lebih dari 300 lapangan sudah dalam proses persetujuan POD. Bahlil secara khusus menyoroti Blok Masela yang dioperasikan Inpex, proyek yang sudah puluhan tahun mandek meski POD sudah disetujui.

“Saya kasih surat peringatan. Kalau ente nggak mau, saya cabut izinnya, peringatan pertama. Begitu surat cinta keluar, langsung tender FEED-nya. Dan target produksi kita itu di 2028-2029. Artinya memang, mengelola energi kita nggak bisa dengan hanya wajah yang disukai semua orang,” kata Bahlil di Investor Daily Summit 2025 pada Oktober tahun lalu.

Strategi ketiga adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur yang selama ini tidak beroperasi. Bahlil menyebut total sumur yang dimiliki Indonesia, di luar sumur masyarakat, mencapai hampir 40.000 sumur. Sebagian besar dari jumlah itu tergolong idle wells, sumur tua yang tidak aktif namun masih menyimpan potensi produksi.

“Bapak-Ibu semua, total sumur kita di luar sumur masyarakat, total sumur kita itu kurang lebih sekitar 40 ribu sumur. 39, hampir 40 ribu sumur,” kata Bahlil.

Dengan sisa waktu lebih dari tujuh bulan menuju akhir 2026, pemerintah masih harus menutup gap produksi yang cukup lebar. Percepatan POD lapangan-lapangan yang sudah disetujui, termasuk nasib Blok Masela, bakal menjadi penentu apakah target lifting tahun ini bisa tercapai atau kembali meleset.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman