Internasional

57 Rumah Warga Palestina Hancur di Al-Bustan, Digusur Demi Taman Bertema Biblika ‘Kings Garden’

12
×

57 Rumah Warga Palestina Hancur di Al-Bustan, Digusur Demi Taman Bertema Biblika ‘Kings Garden’

Sebarkan artikel ini

Teras News — Lebih dari 57 rumah warga Palestina di lingkungan al-Bustan, Yerusalem Timur, telah rata dengan tanah dalam dua tahun terakhir akibat tekanan penggusuran oleh otoritas kota Yerusalem. Kawasan permukiman itu akan diubah menjadi taman bertema alkitabiah bernama Kings Garden, yang diklaim sebagai tempat rekreasi Raja Salomo tiga milenia silam.

“Ini adalah sesuatu yang sangat berat, ini adalah sesuatu yang pahit,” kata Jalal al-Tawil, salah seorang warga al-Bustan, seperti dilaporkan The Guardian, Rabu (20/5/2026).

Bayar Rp 1,27 Miliar atau Hancurkan Sendiri

Al-Tawil menyewa traktor dan merobohkan sendiri rumah yang dibangun mendiang ayahnya. Bukan karena mau, melainkan karena tidak punya pilihan lain. Jika pembongkaran diserahkan kepada petugas pemerintah kota Israel, ia harus menanggung denda sebesar 280.000 shekel, sekitar US$ 72.000 atau Rp 1,27 miliar.

“Pilihan ini seperti diberikan opsi antara melakukan bunuh diri atau dibunuh secara paksa,” ucap al-Tawil.

Nasib serupa dialami Mohammad Qwaider, ayah dari enam anak, yang merobohkan sebagian rumahnya untuk meredakan tekanan perencana kota. Upaya itu pun tak cukup. Petugas pemerintah daerah tetap datang dan mengancam akan meratakan seluruh sisa bangunan.

“Ada anjing liar yang berkeliaran di lingkungan ini pada malam hari yang merasa lebih aman dan terjamin daripada kami,” kata Qwaider. “Jika mereka meruntuhkan rumah kami, kami akan mendirikan tenda dan kami tidak akan pernah pergi meninggalkan tanah ini.”

Empat Generasi Terusir, Kini Tinggal di Kabin Portabel

Pemimpin komunitas al-Bustan, Fakhri Abu Diab, kini tinggal di sebuah kabin portabel bersama istrinya. Rumah keluarganya yang sudah berdiri selama empat generasi telah menjadi puing.

Tekanan penggusuran disebut kian masif sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, meletusnya perang Gaza, dan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih sebagai Presiden Amerika Serikat. Ketiga faktor itu, menurut warga dan peneliti, menciptakan iklim yang memperlemah perlawanan warga Palestina di wilayah yang diduduki Israel.

Proyek Arkeologi Dituding Hapus Identitas Palestina dari Yerusalem

Aviv Tatarsky, peneliti senior dari lembaga advokasi Ir Amim, menilai proyek Kings Garden bukan sekadar taman wisata. Ia menyebutnya sebagai rekayasa narasi sejarah yang terencana.

“Israel tidak bersedia mengakui realitas multi-etnis dan multi-kultural di Yerusalem, dan mereka menghapuskan warga Palestina terlebih dahulu,” kata Tatarsky.

“Jika penggusuran ini selesai, warga Israel yang datang ke taman hanya akan melihat cerita fiksi tanpa mengetahui adanya komunitas yang dihancurkan di bawahnya,” lanjutnya.

Yerusalem Timur dicaplok Israel sejak Perang Enam Hari tahun 1967, sebuah aneksasi yang tidak diakui oleh hukum internasional dan mayoritas negara-negara di dunia. Status kota ini tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Dengan puluhan rumah yang sudah rata dan ratusan keluarga yang terancam kehilangan tempat tinggal, nasib warga al-Bustan kini bergantung pada tekanan komunitas internasional terhadap kebijakan pemukiman Israel di Yerusalem Timur.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman