Internasional

Perdagangan Rusia-China Lampaui USD 200 Miliar, Lavrov: Kemitraan Kami Tahan Tekanan Barat

10
×

Perdagangan Rusia-China Lampaui USD 200 Miliar, Lavrov: Kemitraan Kami Tahan Tekanan Barat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa hubungan Moskow dan Beijing kini berdiri di atas fondasi yang cukup kokoh untuk menahan segala bentuk tekanan dari Barat. Kemitraan strategis Rusia-China, menurut Lavrov, tercermin dari angka perdagangan bilateral yang telah melampaui USD 200 miliar.

Lavrov menunjuk tiga pilar utama yang memperkuat hubungan kedua negara: perluasan kerja sama di sektor energi, peningkatan koordinasi teknologi, serta lonjakan volume perdagangan yang menembus angka USD 200 miliar itu. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam sejarah hubungan ekonomi Rusia-China.

Omset Perdagangan USD 200 Miliar Jadi Bukti Kekuatan Hubungan Bilateral

Rusia dan China memang semakin erat menjalin hubungan dagang sejak Moskow menghadapi gelombang sanksi ekonomi dari negara-negara Barat, terutama pasca konflik di Ukraina yang dimulai pada 2022. China menjadi salah satu mitra dagang terbesar Rusia, menyerap ekspor energi Rusia dalam volume besar saat pasar Eropa menutup pintu.

Koordinasi teknologi antara kedua negara juga meningkat dalam periode yang sama. Rusia mencari alternatif teknologi dari Barat, sementara China memiliki kepentingan tersendiri dalam memperluas pengaruh teknologinya ke pasar yang besar.

Lavrov: Kemitraan Ini Cukup Kuat

Pernyataan Lavrov datang di tengah tekanan berkelanjutan dari aliansi Barat yang berupaya mengisolasi Rusia secara ekonomi dan diplomatik. Moskow konsisten menolak narasi isolasi tersebut dengan menunjukkan data hubungan dagangnya bersama Beijing.

Angka USD 200 miliar dalam omset perdagangan bilateral itu bukan sekadar statistik. Angka itu mencerminkan skala ketergantungan ekonomi yang sudah terbangun, dan sulit diputus dalam waktu singkat meski tekanan geopolitik terus berdatangan.

Hubungan Rusia-China yang terus menguat ini menjadi salah satu variabel penting dalam peta geopolitik global saat ini, di mana dua kekuatan besar itu bergerak dalam orbit yang semakin berdekatan di hadapan dominasi Barat.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman