Berita

Laba Asuransi Umum dan Reasuransi Capai Rp4,22 Triliun di Maret 2026, Premi Harta Benda Jadi Penopang Terbesar

12
×

Laba Asuransi Umum dan Reasuransi Capai Rp4,22 Triliun di Maret 2026, Premi Harta Benda Jadi Penopang Terbesar

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rp4,22 triliun. Angka itu adalah laba setelah pajak yang dibukukan industri asuransi umum dan reasuransi Indonesia hingga Maret 2026, naik sekitar Rp80 miliar dibanding periode sebelumnya. Di tengah tekanan geopolitik global yang memukul segmen reasuransi, asuransi umum justru menunjukkan ketahanan yang solid.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono, mengungkap data tersebut dalam jawaban tertulis yang disampaikan di Jakarta, Sabtu. Ia menyebut pertumbuhan laba itu bukan kebetulan.

“Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya hasil investasi, pertumbuhan premi pada beberapa lini usaha, serta penguatan efisiensi dan manajemen risiko perusahaan,” kata Ogi.

Premi Harta Benda Sumbang Rp8,47 Triliun, Terbesar dari Semua Lini

Pendapatan premi industri asuransi umum dan reasuransi secara keseluruhan tumbuh 1,77 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp41,24 triliun. Tiga lini usaha mendominasi kontribusi: harta benda (properti), kendaraan bermotor, dan kredit.

Asuransi harta benda menjadi penopang paling besar dengan pendapatan premi Rp8,47 triliun, setara 25,18 persen dari total premi industri. Kendaraan bermotor menyusul dengan Rp5,84 triliun atau 17,37 persen, sedangkan asuransi kredit membukukan Rp4,73 triliun dengan kontribusi 14,05 persen.

Ogi menyebut lini-lini itu bukan sekadar penopang sementara. “Secara prospek, tiga lini usaha tersebut, ditambah lini usaha kesehatan, memang menjadi tulang punggung industri asuransi umum dalam beberapa waktu terakhir, sehingga diproyeksikan ke depannya lini usaha tersebut tetap akan menjadi penopang utama industri asuransi umum,” ujarnya.

Reasuransi Tertekan Konflik AS-Israel-Iran, Premi Turun 1,43 Persen

Gambaran berbeda datang dari segmen reasuransi. Pendapatan premi industri reasuransi di Maret 2026 turun 1,43 persen secara tahunan menjadi Rp7,62 triliun. OJK menunjuk gejolak geopolitik sebagai faktor utama, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus bergulir sejak awal tahun.

Tekanan itu terasa nyata di sejumlah lini usaha sensitif. Premi rangka kapal anjlok Rp40 miliar atau 11,40 persen secara tahunan. Energi onshore (yang beroperasi di darat) melemah Rp30 miliar atau turun 17,00 persen. Energi offshore (lepas pantai) juga tergerus Rp10 miliar.

“Penurunan juga terjadi pada lini usaha terkait, antara lain premi rangka kapal yang turun sebesar Rp40 miliar atau menurun 11,40 persen yoy, energi onshore menurun sebesar Rp30 miliar atau turun 17,00 persen yoy, serta energi offshore menurun sebesar Rp10 miliar,” jelas Ogi.

Kondisi geopolitik yang memanas juga mendorong hardening, yaitu kecenderungan kenaikan atau penyesuaian harga premi reasuransi akibat meningkatnya risiko, yang menambah beban bagi perusahaan-perusahaan reasuransi dalam menjaga margin usaha mereka. Risiko klaim pun meningkat seiring gangguan operasional dan aktivitas perdagangan internasional yang terganggu.

Dengan separuh perjalanan kuartal kedua 2026 telah berlalu, perhatian kini tertuju pada apakah tiga lini unggulan asuransi umum mampu mempertahankan laju positifnya, sementara segmen reasuransi masih menunggu kepastian arah konflik geopolitik yang belum mereda.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma