Internasional

Indonesia Dorong ASEAN Perkuat Cadangan Beras dan Diversifikasi Pupuk di KTT Cebu

13
×

Indonesia Dorong ASEAN Perkuat Cadangan Beras dan Diversifikasi Pupuk di KTT Cebu

Sebarkan artikel ini

Teras News — Indonesia terus menekan negara-negara ASEAN untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan, termasuk cadangan beras darurat dan diversifikasi sumber pupuk, di tengah goncangan rantai pasok global akibat konflik geopolitik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyebut desakan itu kian mendesak karena dinamika global telah menekan harga energi, pupuk, dan bahan pangan secara bersamaan. “Indonesia juga mendorong agar isu pangan dan energi dilihat secara terintegrasi, mengingat keduanya saling berkaitan, termasuk dalam aspek pupuk, logistik, dan stabilitas harga,” kata Nabyl kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Pertemuan AMAF 29 April Bahas Cadangan Beras APTERR

Dalam pertemuan khusus Menteri Pertanian dan Kehutanan ASEAN (AMAF) pada 29 April lalu, negara-negara anggota membahas penguatan cadangan beras darurat di bawah mekanisme ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR). Forum itu juga membahas Sistem Informasi Ketahanan Pangan ASEAN (AFSIS), kesiapsiagaan pangan untuk komoditas di luar beras, serta diversifikasi sumber pasokan pupuk dan energi.

KTT ke-48 ASEAN yang baru rampung digelar di Cebu, Filipina, pekan lalu, menempatkan ketahanan energi dan pangan sebagai prioritas utama. Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menyatakan para pemimpin kawasan menyerukan pasar yang terbuka dan dapat diprediksi, penguatan konektivitas rantai pasokan, serta pemantauan cadangan pangan regional yang lebih efektif.

Deklarasi 2023 Jadi Acuan Jangka Panjang

Nabyl menegaskan Indonesia mendorong agar kesepakatan yang lahir dari keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023 tetap dijadikan acuan bersama. “Indonesia terus mendorong implementasi Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang Memperkuat Keamanan Pangan dan Nutrisi yang diadopsi pada keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023,” jelasnya.

Penguatan itu, menurut Nabyl, harus ditopang oleh tiga pilar: koordinasi regional yang lebih solid, cadangan pangan yang memadai, serta sistem pengawasan dan peringatan dini terhadap potensi krisis pangan.

Ketahanan pangan ASEAN kini menghadapi tekanan berlapis. Gangguan rantai pasok akibat konflik di berbagai belahan dunia membuat harga pupuk melonjak, sementara ketergantungan sejumlah negara anggota pada impor beras dan komoditas pangan lain membuat kawasan rentan terhadap gejolak harga global. Indonesia, sebagai salah satu produsen pertanian terbesar di Asia Tenggara, menempatkan isu ini sebagai prioritas diplomatik di berbagai forum regional.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma