Internasional

UEA Keluar dari OPEC setelah Arab Saudi dan Qatar Tolak Ajakan Perang Gabungan Lawan Iran

13
×

UEA Keluar dari OPEC setelah Arab Saudi dan Qatar Tolak Ajakan Perang Gabungan Lawan Iran

Sebarkan artikel ini

Teras News — Negara-negara Teluk Persia kini dihadapkan pada keretakan geopolitik yang nyata. Uni Emirat Arab (UEA) mengambil keputusan dramatis keluar dari OPEC setelah gagal meyakinkan Arab Saudi dan Qatar untuk bersama-sama mengambil sikap militer terhadap Iran.

Frustrasi UEA memuncak setelah upaya lobi ke dua kekuatan besar kawasan itu tidak membuahkan hasil. Arab Saudi dan Qatar menolak ajakan perang gabungan yang didorong Abu Dhabi, dan sikap diam mereka rupanya menjadi titik balik bagi UEA untuk meninggalkan blok minyak terbesar di dunia itu.

UEA Frustrasi dengan Respons Lemah Negara Teluk

Penolakan Arab Saudi dan Qatar bukan sekadar soal ketidaksepakatan taktis. Bagi UEA, lemahnya respons negara-negara tetangga itu mencerminkan ketidakmauan kolektif kawasan untuk mengambil posisi tegas terhadap Teheran. Situasi ini membuat Abu Dhabi merasa berdiri sendiri di antara negara-negara yang selama ini dianggap sekutu strategis.

Keluarnya UEA dari OPEC menjadi konsekuensi langsung dari kekecewaan tersebut, seperti dilaporkan Sindonews. Langkah itu mengejutkan banyak pihak, mengingat UEA adalah salah satu produsen minyak terbesar di dalam kelompok itu dan selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dari keseimbangan produksi global.

Ketegangan UEA-Iran Sudah Lama Membara

Hubungan UEA dengan Iran memang tidak pernah benar-benar pulih. Sengketa atas Kepulauan Abu Musa serta Tunbs Besar dan Kecil, yang diduduki Iran sejak 1971, masih menjadi luka lama dalam hubungan bilateral keduanya. Abu Dhabi secara konsisten menuntut kedaulatan atas pulau-pulau itu, sementara Teheran bergeming.

Di sisi keamanan regional, UEA juga melihat pengaruh Iran yang terus merayap ke Yaman, Irak, Lebanon, dan Suriah sebagai ancaman nyata bagi stabilitas kawasan. Ini yang sebagian besar melatarbelakangi dorongan Abu Dhabi untuk membangun front bersama melawan Iran.

Arab Saudi dan Qatar Pilih Jaga Jarak dari Konflik Terbuka

Sikap Arab Saudi dan Qatar yang menahan diri bukan tanpa alasan. Riyadh tengah menjalani proses normalisasi hubungan dengan Teheran yang dimediasi China sejak 2023, sebuah jalur diplomatik yang akan hancur seketika jika Arab Saudi ikut serta dalam kampanye militer terhadap Iran. Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara AS terbesar di Timur Tengah, juga tidak ingin terseret ke dalam eskalasi yang bisa mengancam posisinya sebagai mediator regional.

Keduanya tampaknya memilih jalan pragmatis: tidak memperburuk ketegangan secara terbuka, bahkan ketika tekanan dari UEA terus meningkat.

Keputusan UEA keluar dari OPEC kini melemparkan pertanyaan besar soal masa depan koordinasi energi di antara negara-negara Teluk, sekaligus menguji seberapa solid persatuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam menghadapi ancaman yang mereka persepsikan berbeda-beda.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman