Internasional

Anwar Sadat Dibunuh Tentaranya Sendiri Dua Tahun Setelah Tanda Tangan Damai dengan Israel

3
×

Anwar Sadat Dibunuh Tentaranya Sendiri Dua Tahun Setelah Tanda Tangan Damai dengan Israel

Sebarkan artikel ini

Teras News — Dua tahun setelah menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 26 Maret 1979, Presiden Mesir Anwar Sadat tewas ditembak oleh perwira militernya sendiri di depan ribuan penonton parade. Ia yang baru saja menerima Hadiah Nobel Perdamaian bersama PM Israel Menachem Begin justru gugur di tangan orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Peristiwa pembunuhan itu terjadi pada 6 Oktober 1981 di Kairo. Hari itu, pemerintah Mesir menggelar parade militer besar-besaran untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez dan menembus pertahanan Israel dalam Perang Yom Kippur delapan tahun sebelumnya. Sadat hadir di tribun utama, dikelilingi pejabat tinggi dan pengamanan super ketat.

Hormat Palsu, Tiga Granat, dan Tembakan Senapan Otomatis

Tidak ada yang mencurigai bahaya. Parade militer lazimnya menggunakan senjata tanpa peluru tajam — prosedur standar yang berlaku di banyak negara. Ribuan penonton menyaksikan iring-iringan kendaraan militer melintas di hadapan tribun tanpa insiden.

Lalu satu truk berhenti.

Seorang perwira turun dari kendaraan itu dan memberi hormat ke arah Sadat. Mengutip laporan New York Times, Sadat berdiri membalas penghormatan tersebut. Itulah jebakan. Dalam hitungan detik, tiga granat dilemparkan ke tribun, diikuti rentetan tembakan senapan otomatis dari pasukan yang berada di atas truk. Sadat tumbang bersama sejumlah pejabat dan penonton lain di sekitarnya.

Sadat segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi darurat. Namun nyawanya tidak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama, 6 Oktober 1981.

Dalang Pembunuhan: Letnan Khalid Islambouli dan Jihad Islam Mesir

Otak serangan itu adalah Letnan Khalid Islambouli, anggota kelompok radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini terbentuk sebagai reaksi keras terhadap kebijakan Sadat yang oleh para pendukungnya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Untuk memahami mengapa kebencian itu begitu mendalam, perlu dilihat konteks sejarahnya. Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, Mesir berdiri di garis terdepan penentangan Arab terhadap zionisme. Negeri itu berulang kali berperang melawan Israel. Puncaknya adalah Perang Yom Kippur pada 6 Oktober 1973, ketika pasukan Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak ke wilayah Israel bertepatan dengan hari besar keagamaan Yahudi. Serangan itu bahkan luput dari deteksi intelijen Amerika Serikat, sehingga mengguncang dunia.

Namun Sadat kemudian mengambil arah yang berlawanan. Menurut buku Anwar Sadat: Visionary Who Dared (2013), sikapnya berubah drastis setelah perang. Sadat sampai pada kesimpulan bahwa Israel tidak bisa dikalahkan secara militer, dan perdamaian adalah satu-satunya jalan menuju stabilitas kawasan.

Pada 26 Maret 1979, ia menandatangani Perjanjian Damai Camp David bersama PM Israel Menachem Begin, disaksikan langsung oleh Presiden AS Jimmy Carter. Keputusan itu memicu gelombang penolakan di dalam negeri. Banyak kalangan militer dan ulama garis keras menilai Sadat mengkhianati perjuangan Arab. Dari rahim penolakan itulah Jihad Islam Mesir lahir, dan merencanakan pembunuhan yang akhirnya terjadi dua tahun kemudian.

Kematian Sadat menutup satu episode paling dramatis dalam sejarah politik Timur Tengah: seorang pemimpin yang memilih berdamai dengan musuh lama negaranya, dan membayar keputusan itu dengan nyawanya sendiri.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma