Teras News — Ribuan pengemudi truk kargo terlantar di jalan-jalan sekitar La Paz dan El Alto, Bolivia, setelah demonstran mempertahankan blokade selama lebih dari sepekan. Para sopir kehabisan makanan, air bersih, bahkan pakaian ganti, sementara antrean kendaraan berat mengular tanpa tanda-tanda akan bergerak.
Blokade ini dipicu oleh tuntutan pengunduran diri Presiden Bolivia Rodrigo Paz. Para demonstran menutup jalur distribusi utama menuju dan keluar dari La Paz serta wilayah utara Bolivia, melumpuhkan rantai pasok barang ke berbagai daerah.
Sopir Ceritakan Kondisi Mencekam di Tengah Blokade
Salah seorang pengemudi yang ditemui Reuters mengaku situasi di lapangan jauh lebih buruk dari yang dibayangkan. “Banyak pengemudi sudah kehabisan pakaian ganti dan kesulitan mendapatkan air,” katanya. Ia menambahkan, banyak sopir sudah ingin meninggalkan truk mereka dan berjalan kaki keluar dari lokasi blokade.
Baca Juga:
Pengemudi lain mendesak pemerintah segera turun tangan. Mereka ingin pulang. Namun selama jalur tetap diblokir, truk-truk bermuatan itu tidak bisa ke mana-mana.
Warga Mulai Rasakan Kelangkaan Bahan Pokok dan Obat-obatan
Dampak blokade tidak hanya dirasakan para sopir. Warga di sejumlah wilayah Bolivia mulai menghadapi kelangkaan bahan makanan dan persediaan medis akibat distribusi logistik yang terhenti. Pihak berwenang dan kelompok masyarakat setempat memperingatkan ancaman krisis pasokan jika blokade tidak segera diakhiri.
Demonstran menyebut aksi mereka sebagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat Bolivia, termasuk kebijakan privatisasi dan buruknya kualitas bahan bakar yang beredar di pasaran.
Pemerintah Serukan Dialog, Situasi Belum Reda
Pemerintahan Rodrigo Paz menyerukan dialog dan mengundang berbagai sektor untuk bernegosiasi di istana presiden. Namun hingga laporan Reuters dipublikasikan pada Jumat (14/5/2026), blokade masih bertahan dan ribuan truk belum bergerak.
Krisis ini menempatkan Bolivia dalam tekanan ganda: di satu sisi pemerintah menghadapi desakan mundur dari para pengunjuk rasa, di sisi lain kebutuhan dasar warga dan nasib para pengemudi yang terjebak menuntut penyelesaian segera. Sejauh ini, belum ada kesepakatan yang tercapai antara pemerintah dan pihak demonstran.
Editor: Arif Budiman