Berita

Juri LCC MPR Diminta Diganti, Habiburokhman Bela Siswi SMAN 1 Pontianak yang Protes Penilaian Tak Adil

9
×

Juri LCC MPR Diminta Diganti, Habiburokhman Bela Siswi SMAN 1 Pontianak yang Protes Penilaian Tak Adil

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jawaban yang sama, nilai yang berbeda. Itulah inti masalah yang membuat Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat berujung polemik setelah videonya viral di media sosial. Di tengah sorotan publik itu, Ketua Fraksi Partai Gerindra MPR RI, Habiburokhman, angkat bicara membela JA (18), siswi SMAN 1 Pontianak yang dikenal dengan nama panggilan Ocha, karena berani memprotes keputusan juri di depan umum.

Dalam pernyataannya pada Selasa (12/5/2026), Habiburokhman tidak hanya memuji keberanian JA, tapi juga mendesak agar juri perlombaan diganti dan kegiatan dihentikan sementara. “Kami mengusulkan agar juri acara tersebut diganti dan acara dihentikan sementara sampai ada jaminan perbaikan serius,” tegasnya.

Grup C Dipotong 5 Poin, Grup B Dapat Nilai Penuh untuk Jawaban Serupa

Duduk perkaranya bermula dari sesi tanya jawab soal proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Grup C dari SMAN 1 Pontianak, tempat JA berkompetisi, mendapat pengurangan lima poin. Grup B dari SMAN 1 Sambas menjawab hal yang sama dan mendapat nilai penuh dari juri yang sama pula.

Juri berdalih jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas. JA menolak menerima penjelasan itu begitu saja. Ia menyampaikan protes langsung karena merasa jawaban timnya setara dengan Grup B. Video momen protes itulah yang kemudian menyebar luas dan memantik reaksi dari berbagai pihak.

Habiburokhman: Juri dan Panitia Seharusnya Minta Maaf

Habiburokhman tidak menyimpan kata-kata. Ia mengkritik juri, panitia, hingga pembawa acara yang dinilainya menutup diri dari kritik peserta. “Kami menyayangkan sikap juri, panitia, termasuk pembawa acara yang tidak mengakui kesalahan dan menunjukkan sikap anti kritik. Selayaknya mereka meminta maaf kepada Ocha,” ujarnya.

Kesalahan penilaian dalam lomba semacam ini, menurutnya, bukan perkara kecil. LCC Empat Pilar MPR dirancang untuk menanamkan pemahaman siswa tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika kepada generasi muda. Jika penyelenggaraannya justru mencederai rasa keadilan peserta, tujuan edukasi itu bisa berbalik arah. “Jangan sampai maksud kita melakukan edukasi justru menjadi kontraproduktif,” kata Habiburokhman.

Ia juga menegaskan bahwa sikap JA layak dijadikan teladan. “Sikap teguh hati dan berani dalam mempertahankan kebenaran patut kita teladani bersama,” tambahnya.

Lomba Bergengsi yang Kini Dipertanyakan Kredibilitasnya

LCC Empat Pilar MPR RI merupakan kompetisi tahunan yang diikuti pelajar SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Perlombaan ini digelar MPR sebagai bagian dari program sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada generasi muda. Dengan jangkauan nasional dan peserta dari ratusan sekolah, kredibilitas penilaian menjadi fondasi penting yang tidak bisa diabaikan.

Kasus ini kini menunggu respons resmi dari pihak MPR RI, termasuk apakah desakan Habiburokhman soal pergantian juri dan penghentian sementara acara akan ditindaklanjuti. Publik dan komunitas pendidikan di Kalimantan Barat memantau perkembangan ini dengan seksama.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Ratna Dewi