Teras News — Dari lahan seluas 661.112 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, program penanaman jagung Polri menghasilkan 3,9 juta ton sepanjang tahun 2025. Capaian itu turut mendorong produksi jagung nasional naik 6,74 persen atau sekitar 1,8 juta ton dibanding periode sebelumnya.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan laporan tersebut langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam panen raya jagung serentak kuartal II tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu. Kegiatan itu bukan sekadar seremonial panen — di Tuban, Polri sekaligus meletakkan batu pertama pembangunan 10 gudang ketahanan pangan dan meluncurkan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Panen Kuartal II Capai 1,23 Juta Ton dari 189.760 Hektare
Panen raya kuartal II/2026 yang dipimpin langsung Presiden Prabowo di Tuban mencakup lahan seluas 189.760 hektare dengan potensi hasil sekitar 1,23 juta ton jagung. Angka ini jauh lebih besar dibanding panen kuartal I yang digelar pada 8 Januari 2026, di mana lahan yang dipanen baru mencapai 91 ribu hektare dengan hasil 884.129 ton.
Baca Juga:
Khusus di Kabupaten Tuban, Polri memanen jagung di lahan perhutanan sosial seluas 101,5 hektare yang dikelola empat kelompok tani: KTH Wono Lestari, LMDH Jenggolo Manik, LMDH Wono Mulyo, serta lahan milik PT Semen Indonesia. Dari luasan itu, potensi panen diperkirakan mencapai 609 ton.
“Dari luas lahan tersebut, potensi hasil panen diperkirakan mencapai 609 ton dan seluruh hasil panen akan dikirimkan ke Bulog guna mendukung penguatan cadangan pangan pemerintah dan menjaga stabilitas pasokan,” kata Sigit.
Ekspor ke Malaysia lewat Jagoi Babang, Margin Rp 500 per Kg
Sebanyak 100 ton jagung hasil panen siap diekspor ke Malaysia melalui perbatasan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Skema yang dipakai melibatkan koperasi sebagai perantara: koperasi membeli jagung dari petani seharga Rp 6.500 per kilogram, lalu menjualnya ke Malaysia seharga Rp 7.000 per kilogram, sehingga menghasilkan margin Rp 500 per kilogram.
Menurut Sigit, pola ini dirancang untuk memperkuat ekosistem pangan nasional sekaligus menambah nilai ekonomi bagi petani. Polri juga mencatat masih ada potensi pengembangan lahan jagung pada 2026 seluas 1,37 juta hektare yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Pada tahun 2025, Polri berhasil merealisasikan penanaman jagung pada lahan seluas 661.112 hektare dengan hasil panen sebanyak 3,9 juta ton,” ujar Sigit dalam keterangannya.
Seluruh hasil panen di Tuban rencananya diserap Bulog sebagai bagian dari target penyerapan jagung nasional 1 juta ton di 2026, sesuai kerja sama yang sebelumnya dijalin antara Bulog dan Polri. Dengan potensi lahan 1,37 juta hektare yang belum digarap maksimal, target produksi tahun ini tampaknya masih terbuka lebar untuk dikejar.
Editor: Ratna Dewi