oleh

5 Wilayah Sulsel Penghasil Garam Segera Dibuatkan Rumah Prisma

MAKASSAR, Terasnews.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan optimis mampu memenuhi kebutuhan garam secara nasional di tengah masa produksi yang cukup mencemaskan dari tahun ke tahun. Penerapan teknologi buat para petani menjadi strategi dalam menjaga kestabilan produksi garam.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Muhammad Ilyas menyampaikan, produksi garam tahun ini perlahan menurun bahkan berada di posisi paling terendah dari tahun-tahun sebelumnya.

Produksi garam pada 2018 mencapai 86.712 ton, kemudian di 2019 lalu mengalami kenaikan yang fantastis mencapai 140.338 ton. Kondisi itu tidak bertahan di 2020 yang cuma mencapai 45.310 ton dan semakin diperparah di 2021 total produksi hanya mencapai 1.500 ton.

“Sementara di 2022 sampai triwulan III, produksi garam mencapai titik terendah hanya 1.283,41 ton saja,” sebut Ilyas, Senin (21/11).

Kata Ilyas, ada beberapa faktor memengaruhi penurunan produksi garam, seperti cuaca tidak menentu, dan pasang surut air laut. Selain itu, rendahnya konsumsi masyarakat pada garam lokal membuat penjualan garam menurun dari para patani menurun. Ironinya lagi, perlahan para petani meninggalkan pekerjaannya.

Oleh karena itu, Pemprov Sulsel pun saat ini tengah menyusun Rancangan Peraturan Gubernur (Ranpergub) mengenai pengelolaan pergaraman di wilayahnya. Tujuannya untuk mencapai kembali produksi garam yang amat tinggi pada 2019 lalu.

Ilyas menjelaskan, Ranpergub tersebut akan fokus ke beberapa poin diantaranya soal mendorong produktivitas garam, meningkatkan kualitas, menjaga kesinambungan produksi, dan membentuk kelembagaan usaha.

“Kita lagi buat Ranpergub dari hulu ke hilir, dari produksi sampai bagaimana hilirisasi pasarnya. Karena kalau kita dorong produksi tapi pasar tidak menarik, petani juga tidak mau mengembangkan. Semoga di Pergub nanti semua poin bisa berjalan,” ungkap Ilyas.

Pihaknya juga akan segera membangun berbagai kawasan pusat garam terutama di lima wilayah penghasil garam, yaitu Kabupaten Jeneponto, Takalar, Pangkep, Maros, dan Selayar. Di wilayah tersebut akan dimasukkan berbagai teknologi produksi sampai teknologi prosessing.

Pengembangan Rumah Prisma dan penerapan sistem tunnel di area tambak kawasan pusat garam akan diterapkan guna menghindari ancaman gagal produksi karena cuaca buruk dan pasang surut air laut. Teknologi ini pula yang belum banyak digunakan para petani Sulsel sehingga produksinya selama ini tidak maksimal.

“Kita juga harapkan supaya garam kita bisa diolah menjadi industri garam farmasi, makanya kita akan mulai tingkatkan produksi. Tapi intinya, garam bisa dikonsumsi dulu oleh masyarakat Sulsel sendiri. Kita akan buat aturan supaya masyarakat senantiasa pakai garam lokal,” paparnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *