Teras News — Petasol, bahan bakar alternatif berbasis pengolahan limbah plastik, resmi diperkenalkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai produk yang telah melewati serangkaian pengujian dan dinyatakan aman digunakan pada kendaraan maupun mesin.
Inovasi ini hadir di tengah dua masalah besar yang selama ini berjalan berdampingan: tumpukan sampah plastik yang belum tertangani optimal, dan kebutuhan energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. BRIN mengklaim Petasol menjawab keduanya sekaligus lewat proses konversi limbah plastik menjadi bahan bakar cair.
Plastik Jadi Bahan Bakar: Proses Pirolisis di Balik Petasol
Secara umum, konversi plastik menjadi bahan bakar memanfaatkan prinsip pirolisis, yakni proses pemanasan material organik pada suhu tinggi tanpa oksigen sehingga menghasilkan minyak, gas, dan residu padat. Hasilnya berupa cairan menyerupai solar atau bensin yang dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar. BRIN tidak merinci lebih jauh teknis proses produksi Petasol dalam pengumuman ini.
Baca Juga:
Yang ditegaskan BRIN: produk ini sudah diuji dan aman untuk kendaraan dan mesin. Artinya Petasol bukan sekadar prototipe di atas kertas, melainkan sudah melewati tahap validasi teknis.
Potensi Atasi Dua Masalah Sekaligus
Indonesia menghadapi tekanan ganda dalam pengelolaan sampah plastik. Volume limbah plastik terus meningkat setiap tahun, sementara fasilitas daur ulang konvensional belum mampu menyerapnya seluruhnya. Di sisi energi, ketergantungan pada bahan bakar fosil impor masih tinggi.
Petasol menawarkan jalur alternatif: plastik yang tidak bisa didaur ulang konvensional diproses menjadi energi yang bisa langsung dipakai. Jika produksinya bisa diskalakan, ini membuka peluang bagi pengelolaan sampah berbasis energi di tingkat industri maupun komunitas.
BRIN belum mengungkap target komersialisasi, kapasitas produksi, maupun harga jual Petasol kepada publik. Perkembangan lebih lanjut soal ketersediaan produk ini di pasar masih ditunggu.
Editor: Surya Dharma