Teras News — Suhu kawah Gunung Slamet melonjak drastis dari sekitar 280 derajat Celsius menjadi 460 derajat Celsius. Angka itu bukan sekadar data di atas kertas, karena radius bahaya Gunung Slamet pun sudah diperluas dari 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah, meski status gunung masih bertahan di Level II (Waspada).
Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar sosialisasi mitigasi bencana geologi gunung api di Banyumas pada Kamis (24/4/2026). Hadir dalam kegiatan itu perwakilan BPBD dari lima kabupaten yang wilayahnya berada di kawasan Gunung Slamet.
Pergerakan Magma ke Permukaan Terdeteksi
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), P. Hadi Wijaya, menyampaikan bahwa pemantauan terbaru mencatat peningkatan aktivitas kegempaan, khususnya gempa frekuensi rendah. Jenis gempa ini mengindikasikan pergerakan magma menuju permukaan.
Baca Juga:
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas. Setiap perkembangan aktivitas akan terus kami evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan peningkatan status,” kata Hadi.
PVMBG memantau Gunung Slamet menggunakan sistem yang mencakup CCTV, alat seismik, hingga alat deformasi, sehingga setiap perubahan aktivitas bisa segera terdeteksi.
Rencana Kontinjensi Diperbarui, Jalur Aliran Lahar Dievaluasi Ulang
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut bahwa Pemprov Jateng sebetulnya sudah memiliki rencana kontinjensi Gunung Slamet sejak 2021. Dokumen itu kini terus diperbarui, menyesuaikan data terkini soal jumlah penduduk dan potensi jalur aliran material vulkanik.
Pengalaman menangani banjir bandang di wilayah sekitar Gunung Slamet pada awal 2026 juga masuk sebagai bahan evaluasi.
“Secara manajemen hampir sama. Yang berbeda hanya jenis bencananya. Yang terpenting adalah bagaimana menyelamatkan masyarakat sedini mungkin,” ujar Bergas.
Desa Diminta Siap Jadi Lini Pertama
Bergas menekankan bahwa kesiapan di tingkat desa adalah kunci. Pemprov Jateng mendorong program Desa Tangguh Bencana (Destana), yang juga masuk dalam agenda Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
“Desa harus siap karena mereka yang pertama merespons. Semua pihak harus terlibat sebagai subjek, bukan hanya objek dalam penanggulangan bencana,” tegasnya.
Ia menambahkan, mitigasi bukan semata urusan data dan dokumen. “Tujuannya satu, bagaimana kita bisa menyelamatkan masyarakat jika terjadi erupsi. Dari pemahaman kondisi gunung, kita bisa menentukan langkah yang tepat,” katanya.
Sosialisasi di Banyumas ini menjadi forum pertama yang menyatukan pemahaman seluruh pemangku kepentingan dari lima kabupaten seputar Gunung Slamet dalam menghadapi potensi erupsi.
Dilansir dari laporan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (jatengprov.go.id).
Editor: Ratna Dewi