Teras News — 60.000 peserta — itulah kuota program pelatihan vokasi nasional yang sudah dialokasikan pemerintah dalam anggaran 2026, dan kini seluruhnya akan diarahkan sesuai kebutuhan nyata industri di 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkap hal ini seusai rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta para pengelola KEK pada Kamis (24/4/2026) di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.
Selama ini, kata Yassierli, ada jurang antara materi pelatihan di balai latihan kerja dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh kawasan KEK. Balai pelatihan tidak selalu siap, atau lokasinya terlalu jauh dari kebutuhan industri setempat.
Baca Juga:
“Tadi kita petakan apa yang bisa kita lakukan ke depan, lebih konkret, lebih kolaboratif. Tadi kita udah petakan lah. Jadi ada KEK yang, ‘eh kami butuh pelatihan itu arahnya ke sini’, tapi balai yang ada di Kemnaker belum sepenuhnya siap, atau terlalu jauh dari kebutuhan kami,” ujar Yassierli.
Magang 2026 Akan Tersebar di 25 KEK se-Indonesia
Program magang menjadi salah satu komponen utama dalam skema baru ini. Pemerintah ingin peserta magang mendapatkan pengalaman langsung dari industri, bukan sekadar pelatihan teoretis di dalam ruangan.
“Kita juga ingin magang 2026 ini nanti kalau digulirkan, sebarannya merata di semua di Indonesia. Sebagai sebaran, total ada 25 KEK, dengan segala macam variasi,” tegas Yassierli.
KEK adalah kawasan yang ditetapkan pemerintah untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi di sektor tertentu, seperti industri manufaktur, pariwisata, dan teknologi, dengan sejumlah insentif fiskal dan kemudahan regulasi.
Batch I Sudah Berjalan, 10.405 Peserta Tersebar di 21 BLK
Program Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) 2026 sudah berjalan. Batch I telah dimulai dan diikuti 10.405 peserta yang tersebar di 21 Balai Latihan Kerja (BLK), 13 satuan pelatihan di bawah Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, serta 46 BLK UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah).
Yassierli meninjau langsung pelaksanaan Batch I di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (19/4/2026).
“Program ini dirancang link and match dengan kebutuhan industri. Fokus kami adalah meningkatkan keterampilan agar lulusan dapat terserap di dunia kerja,” kata Yassierli saat kunjungan tersebut.
Konsep link and match, atau kesesuaian antara luaran pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, sudah lama menjadi pekerjaan rumah sistem pelatihan vokasi Indonesia. Angka pengangguran terbuka di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SMK dan peserta pelatihan yang tidak terserap industri akibat ketimpangan kompetensi.
Dengan pemetaan ulang kebutuhan per KEK yang dilakukan dalam rapat Kamis kemarin, pemerintah berharap 60.000 kuota peserta tahun ini tidak lagi meleset dari target penyerapan kerja.
Dilansir dari laporan CNBC Indonesia.
Editor: Arif Budiman