Berita

Biodiesel B50 Meluncur 1 Juli 2026, Hemat Devisa Rp 157,28 Triliun — Harga Terbit Tiap Bulan

14
×

Biodiesel B50 Meluncur 1 Juli 2026, Hemat Devisa Rp 157,28 Triliun — Harga Terbit Tiap Bulan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jumat (23/4/2026), di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan program biodiesel B50 siap bergulir pada 1 Juli 2026. Pemerintah sedang merampungkan formulasi harga bahan bakar baru ini, yang berisi campuran 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit.

Harga B50 Keluar Setiap Bulan Mengikuti Formula Baku

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut penetapan harga B50 tidak ditetapkan sekaligus, melainkan dirilis secara berkala. Mekanisme ini mengikuti formula harga yang sudah berlaku untuk produk biodiesel sebelumnya.

“Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula kan tiap bulan kita keluarkan harganya,” kata Eniya di lokasi uji jalan B50, Lembang, Jumat (23/4/2026).

Rilis harga bulanan ini dirancang agar pelaku usaha dan konsumen punya kepastian sebelum kebijakan berlaku penuh. Komponen utama yang sedang dikalkulasi adalah Fatty Acid Methyl Ester (FAME), yaitu senyawa hasil olahan minyak sawit mentah (CPO) yang menjadi bahan pencampur utama dalam biodiesel.

Potensi Penghematan Devisa Naik dari Rp 140 Triliun ke Rp 157,28 Triliun

Angka fiskal di balik program ini terbilang besar. Data Kementerian ESDM memproyeksikan B50 berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun sepanjang 2026. Jumlah itu melampaui target program B40 (biodiesel 40%) yang dipatok Rp 140 triliun, atau selisih sekitar Rp 17,28 triliun.

Penghematan ini berasal dari berkurangnya impor bahan bakar fosil seiring naiknya porsi campuran nabati dari 40% menjadi 50%.

Koordinasi Pasokan FAME Masih Berjalan

Soal kecukupan bahan baku, Eniya mengakui hitungan pasokan FAME hingga akhir tahun masih terus dimatangkan bersama Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).

“Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas karena prediksi hingga Desember itu kan perlu diklarifikasi karena ini kan misal ada penghematan ada pembahasan terus nih kalau yang minyak,” jelasnya.

Meski begitu, Eniya optimistis pasokan tidak akan jadi hambatan. “Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berhitung terus tapi cukup kalau saya prediksi cukup FAME-nya cukup,” ujarnya ketika ditanya kesiapan bahan baku menjelang Juli.

Pemerintah juga mencatat bahwa serapan biodiesel saat ini sudah mencapai sekitar 25%. Target program B50 adalah memangkas impor bahan bakar sebesar 50% dari total kebutuhan. “Target pengurangan impornya kan hitungannya 50%-nya. Sekarang itu serapan biodiesel kira-kira 25% sudah terserap,” tutup Eniya.

Dilansir dari laporan CNBC Indonesia.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Surya Dharma