Berita

Kamar Diisi 10 Orang, DPR Soroti Kenyamanan Jemaah di Embarkasi Haji Donohudan 2026

10
×

Kamar Diisi 10 Orang, DPR Soroti Kenyamanan Jemaah di Embarkasi Haji Donohudan 2026

Sebarkan artikel ini

Teras News — Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid menilai layanan haji 2026 di Embarkasi Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, secara umum sudah membaik dibanding sebelumnya, namun kepadatan kamar asrama yang masih menampung hingga 10 jemaah per kamar menjadi soal yang perlu segera diatasi. Penilaian itu disampaikan setelah ia meninjau langsung fasilitas embarkasi pada Rabu (22/4).

“Saya lihat persiapannya sudah cukup baik, terutama dari sisi kesehatan. Pemeriksaan jemaah sebelum keberangkatan juga sudah berjalan,” kata Abdul Wachid saat kunjungan kerja di kompleks Embarkasi Donohudan.

Distribusi Gelang dan Dokumen Dinilai Siap, Kamar Asrama Masih Padat

Politikus Gerindra itu mengakui sejumlah aspek teknis sudah tertata. Distribusi gelang identitas jemaah, kelengkapan dokumen perjalanan, hingga fasilitas asrama secara umum dinilai memadai. Pemeriksaan kesehatan pun sudah aktif berjalan sejak tahap awal persiapan keberangkatan.

Masalahnya ada di kapasitas kamar. Dengan kondisi satu kamar masih diisi sampai 10 orang, Abdul Wachid meminta pengelola embarkasi meningkatkan standar kenyamanan bagi jemaah yang harus beristirahat sebelum penerbangan ke Tanah Suci.

Koordinasi antar instansi yang terlibat dalam penyelenggaraan haji juga mendapat catatan positif dari legislator daerah pemilihan Jawa Tengah itu. Penyederhanaan sejumlah prosedur layanan dan pelaksanaan simulasi keberangkatan lebih awal disebut sebagai perbaikan yang terasa nyata di lapangan.

Lokasi Hotel di Mekah dan Tekanan Puncak Haji Jadi Perhatian

Kunjungan ke Donohudan tidak hanya memeriksa kesiapan di dalam negeri. Abdul Wachid juga menyampaikan catatan mengenai kondisi di Arab Saudi yang berpotensi mengganggu kelancaran ibadah jemaah Indonesia.

Dua persoalan utama yang ia soroti: posisi hotel jemaah yang belum semuanya berdekatan dengan Masjidil Haram, dan potensi kepadatan ekstrem saat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tiga lokasi itu setiap tahun menjadi titik kritis penyelenggaraan haji karena jutaan jemaah dari seluruh dunia berkumpul dalam waktu bersamaan.

“Secara umum sudah baik, tapi tetap harus kita tingkatkan. Tujuan kita memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah,” ujar Abdul Wachid menutup kunjungannya.

Peningkatan layanan, kata dia, bukan pekerjaan satu musim. Evaluasi harus terus berjalan agar jemaah bisa menjalankan ibadah dengan tenang dan nyaman.

Dilansir dari laporan Gerindra.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi