Berita

Irigasi DI Beo Talaud Hidup Lagi Setelah 4 Tahun Mati, Petani Tak Lagi Bergantung Hujan

11
×

Irigasi DI Beo Talaud Hidup Lagi Setelah 4 Tahun Mati, Petani Tak Lagi Bergantung Hujan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Beo, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, kembali mengalirkan air ke lahan pertanian setelah mangkrak lebih dari empat tahun. PT Hutama Karya (Persero) merampungkan proyek rehabilitasi tersebut yang diinisiasi Kementerian Pekerjaan Umum sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.

“Saluran irigasi DI Beo yang sebelumnya mati dan tidak berfungsi selama lebih dari 4 tahun kini kembali mengalirkan air secara normal. Petani yang tadinya sangat bergantung pada curah hujan kini dapat menanam lebih pasti dengan intensitas tanam yang meningkat,” ujar Plt. Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, di Jakarta, Kamis.

Petani Talaud Bebas dari Ketergantungan Musim Hujan

Selama empat tahun saluran ini tidak aktif, petani di kawasan DI Beo hanya bisa bercocok tanam mengikuti ritme curah hujan. Tidak ada kepastian. Musim kering berarti lahan bero, pendapatan berhenti, dan meja makan keluarga ikut terdampak.

Kini situasinya berbeda. Dengan pasokan air yang kembali stabil, para petani bisa mengatur jadwal tanam tanpa lagi menengadah ke langit menunggu hujan. Lahan yang sebelumnya dibiarkan tidak produktif mulai bisa dioptimalkan kembali.

Kondisi ini bukan hal kecil bagi Talaud. Sektor pertanian dan perkebunan menyumbang sekitar 46 persen terhadap perekonomian daerah, sehingga ketersediaan air irigasi yang andal punya dampak langsung pada perputaran ekonomi warga, dari tingkat petani hingga pasar desa.

Satu dari 28 Titik Irigasi di Sulawesi Utara

Proyek DI Beo bukan berdiri sendiri. Rehabilitasi ini merupakan bagian dari program Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Utama Kewenangan Daerah yang dikelola Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I, mencakup 28 titik daerah irigasi yang tersebar di 9 kabupaten/kota se-Sulawesi Utara.

Talaud dipilih karena kombinasi dua faktor: posisinya sebagai wilayah kepulauan perbatasan yang selama ini sulit mendapat perhatian infrastruktur, sekaligus ketergantungan ekonominya yang sangat tinggi pada sektor pertanian.

“DI Beo adalah wujud komitmen Hutama Karya dalam mendukung ketahanan pangan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun kemandirian pangan Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani di wilayah kepulauan dan perbatasan seperti Talaud,” kata Hamdani.

Dampak Ekonomi Mulai Terasa di Tingkat Desa

Hamdani menjelaskan, manfaat proyek ini sudah mulai dirasakan warga. Ketersediaan air yang lebih stabil mendorong peningkatan hasil panen, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan menggerakkan perputaran ekonomi di tingkat desa.

Petani yang sebelumnya hanya bisa panen sekali setahun kini berpotensi menambah intensitas tanam. Lebih banyak panen berarti lebih banyak pendapatan, dan rantai ekonomi pedesaan pun ikut bergerak.

Proyek ini selaras dengan program kerja Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan dan kemandirian pangan sebagai prioritas nasional. Dengan selesainya rehabilitasi DI Beo, salah satu titik lemah produksi pangan di wilayah perbatasan Sulawesi Utara kini tertutup, dan masyarakat Talaud bisa kembali menggarap lahannya dengan kepastian yang selama empat tahun terakhir tidak mereka miliki.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi