Harga Patokan Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 tercatat melonjak signifikan ke level USD102,26 per barel, naik sebesar USD33,47 per barel dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada Februari 2026, ICP berada di angka USD68,79 per barel. Kenaikan tajam dalam satu bulan ini dikaitkan dengan dampak ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran terhadap pasar minyak global.
Kenaikan Terbesar dalam Satu Bulan
Lonjakan ICP sebesar USD33,47 per barel dari Februari ke Maret 2026 merupakan kenaikan bulanan yang signifikan. ICP kini menembus level USD100 per barel untuk pertama kalinya berdasarkan data periode tersebut, mencapai USD102,26 per barel pada rata-rata bulan Maret 2026.
Baca Juga:
Ketegangan yang melibatkan Iran disebut sebagai faktor yang berdampak pada pergerakan harga minyak mentah Indonesia periode ini. Konflik atau eskalasi geopolitik di kawasan penghasil minyak secara historis berpengaruh langsung terhadap harga minyak di pasar internasional, yang pada gilirannya tercermin pada perhitungan ICP.
Apa Itu ICP dan Mengapa Penting
Indonesian Crude Price (ICP) adalah harga acuan minyak mentah yang ditetapkan pemerintah Indonesia setiap bulan. Angka ini menjadi dasar perhitungan penerimaan negara dari sektor minyak dan gas bumi, serta menjadi acuan dalam penyusunan dan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ketika ICP naik, penerimaan negara dari sektor hulu migas berpotensi meningkat. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah juga berdampak pada beban subsidi energi yang ditanggung pemerintah, khususnya untuk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
ICP dihitung berdasarkan rata-rata harga sejumlah jenis minyak mentah Indonesia yang diperdagangkan di pasar internasional, dengan mengacu pada harga marker crude yang relevan.
Konteks Geopolitik: Dampak Perang Iran
Kenaikan ICP Maret 2026 ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas, khususnya yang melibatkan Iran. Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut kerap berdampak langsung pada sentimen pasar minyak global.
Gangguan pasokan atau kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan dari kawasan tersebut umumnya mendorong harga minyak mentah naik di pasar internasional. ICP sebagai harga acuan minyak Indonesia turut terpengaruh oleh dinamika pasar global ini.
Perbandingan Angka ICP
Berikut perbandingan ICP dua bulan terakhir berdasarkan data yang tersedia:
– Februari 2026: USD68,79 per barel
– Maret 2026: USD102,26 per barel
– Selisih kenaikan: USD33,47 per barel
Rata-rata ICP Maret 2026 sebesar USD102,26 per barel ini melampaui asumsi harga minyak yang umumnya dipatok dalam APBN Indonesia. Bila ICP aktual secara konsisten berada di atas asumsi APBN, hal itu berdampak pada kalkulasi ulang anggaran subsidi energi dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas.
Implikasi terhadap APBN dan Energi Domestik
Harga minyak mentah yang tinggi memiliki dua sisi bagi keuangan negara Indonesia. Di satu sisi, Indonesia masih memiliki produksi minyak mentah sehingga penerimaan dari lifting minyak meningkat seiring naiknya ICP. Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor minyak dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga kenaikan harga minyak global turut memperbesar biaya impor dan beban subsidi BBM.
Pemerintah biasanya melakukan evaluasi asumsi makro APBN, termasuk asumsi harga minyak, jika terjadi perubahan signifikan dan berkepanjangan pada harga minyak di pasar internasional.
Dilansir dari laporan Sindonews.