Teras News — Rabu (30/4), SDN Sukabumi Selatan 07 di Kebon Jeruk, Jakarta Barat menggelar kegiatan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim sebagai bagian dari peringatan Hari Bumi 2026. Sekolah yang telah menyandang predikat Adiwiyata Mandiri ini menjadikan program tersebut sebagai sarana edukasi langsung bagi para siswanya tentang pengelolaan sampah ramah lingkungan.
Ekoenzim adalah cairan hasil fermentasi sampah organik seperti sisa buah dan sayuran yang bisa dimanfaatkan sebagai pembersih alami maupun pupuk cair. Proses pembuatannya melibatkan langsung siswa-siswa sekolah dasar tersebut.
Kepala Sekolah: SDN Sukabumi Selatan 07 Bidik Status Percontohan Sekolah Peduli Lingkungan
Kepala SDN Sukabumi Selatan 07, Bekti Widiyaningsih, menyebut kegiatan ini punya dua tujuan sekaligus: mengurangi volume sampah organik dan menanamkan kebiasaan hidup minim sampah sejak usia dini. “Diharapkan SDN Sukabumi Selatan 07 dapat menjadi percontohan sekolah peduli lingkungan serta mendorong siswa menerapkan gaya hidup minim sampah,” kata Bekti.
Baca Juga:
Program ini juga selaras dengan predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi dalam program sekolah berwawasan lingkungan yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini,” tambahnya.
Kelurahan Serahkan Tong Komposter untuk Dukung Pengolahan Sampah di Sekolah
Pihak Kelurahan Sukabumi Selatan turut hadir dan menyerahkan tong komposter sederhana kepada sekolah sebagai dukungan konkret terhadap program tersebut. Tong komposter digunakan untuk proses fermentasi bahan organik menjadi ekoenzim maupun kompos.
Lurah Sukabumi Selatan, Anjas Umaryadi, berharap praktik ini tidak berhenti di lingkungan sekolah. “Kegiatan ini menjadi upaya mengurangi sampah dari sumber sekaligus mengedukasi siswa agar dapat menerapkannya di rumah,” ujar Anjas.
Kegiatan di SDN Sukabumi Selatan 07 ini bukan yang pertama di Jakarta terkait ekoenzim. Sebelumnya, sebanyak 10 ribu liter ekoenzim pernah dituangkan ke Sungai Jeletreng untuk menekan pencemaran, dan Jakarta Barat juga pernah mendukung pembuatan ekoenzim massal dengan target pencatatan rekor MURI.
Dilansir dari laporan Antara.
Berita Terkait
Editor: Surya Dharma