Teras News — Pasar kendaraan listrik global kini dibanjiri produk asal Tiongkok yang menawarkan harga kompetitif. Honda justru memilih jalur berbeda — bukan perang harga, melainkan perang pengalaman berkendara.
Melalui Super One, Honda memperkenalkan pendekatan yang menempatkan sensasi mengemudi sebagai argumen utama. Bayangkan kabin yang senyap saat melaju kencang, tanpa sentakan kasar ketika pengemudi melakukan downshift (perpindahan gigi ke tingkat lebih rendah) sebelum masuk tikungan, dan tanpa raungan mesin saat pedal gas ditekan habis setelah melewati apex (titik paling dalam sebuah tikungan di jalur balap). Itulah gambaran yang Honda coba tawarkan kepada konsumen lewat model ini.
Sindiran Halus, Bukan Serangan Terbuka
Honda tidak menyebut satu pun merek Tiongkok secara langsung. Strategi ini dibaca sebagai cara brand Jepang tersebut membangun kontras — antara produk yang sekadar murah dan produk yang menjanjikan kesenangan berkendara.
Baca Juga:
Sunyi. Halus. Responsif. Tiga kata yang tampaknya menjadi mantra Honda dalam memposisikan Super One di tengah keramaian pasar EV global yang makin sesak.
Konteks Persaingan yang Makin Sengit
Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok seperti BYD, SAIC, dan sejumlah merek lain telah merambah pasar Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Latin dengan harga yang secara konsisten lebih rendah dibanding merek-merek Jepang, Korea, maupun Eropa. Tekanan ini mendorong merek-merek mapan untuk mencari diferensiasi selain diskon harga.
Honda memilih narasi premium pengalaman berkendara sebagai jawabannya lewat Super One.
Keaslian detail spesifikasi teknis dan harga resmi Honda Super One belum diverifikasi secara independen dari sumber resmi Honda Indonesia.
Dilansir dari laporan Sindonews.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman