Teras News — Ratusan perempuan dari berbagai generasi berkumpul di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (21/4), untuk memperingati Hari Kartini—sosok yang lahir dan dimakamkan di kota itu lebih dari satu abad lalu. Peringatan tahun ini terasa berbeda karena dihadiri langsung oleh Ketua Umum Solidaritas Perempuan Indonesia (Seruni) Kabinet Merah Putih, Selvi Gibran Rakabuming Raka.
Mendampingi Selvi Gibran, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, turut hadir bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifah Fauzi. Rombongan terlebih dahulu menelusuri koleksi di Museum RA Kartini sebelum melanjutkan perjalanan ke makam sang pahlawan nasional sebagai bentuk penghormatan.
Kitab Tafsir dari Kiai Soleh Darat, Sisi Spiritual Kartini yang Jarang Disorot
Di dalam museum, satu koleksi menarik perhatian rombongan: kitab tafsir Al-Qur’an berjudul Faidurrahmah karya Kiai Soleh Darat, yang diberikan sebagai hadiah pernikahan kepada Kartini. Bagi Nawal, artefak itu berbicara lebih dari sekadar benda bersejarah.
Baca Juga:
“Sehingga ini merefleksikan bahwa perempuan itu harus memiliki spiritualitas, karakter yang baik. Berpendidikan saja itu tidak cukup, tapi bagaimana harus memiliki karakter dan spiritual, yang bisa menuntun terhadap langkah-langkahnya,” kata Nawal.
Kiai Soleh Darat adalah ulama besar Semarang abad ke-19 yang dikenal sebagai guru sejumlah tokoh nasional. Kedekatan Kartini dengan sang kiai selama ini memang menjadi salah satu sisi biografi Kartini yang kurang mendapat sorotan luas di luar komunitas akademik.
Pesan untuk Kartini Masa Kini: Independen, Berkarakter, Berintegritas
Nawal mengingatkan bahwa warisan terbesar Kartini bukan sekadar nama yang diabadikan di hari libur nasional. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang—kumpulan surat-surat Kartini yang pertama kali diterbitkan pada 1911—menjadi bukti bahwa gagasan perempuan itu melampaui zamannya.
“Ibu Kartini itu visioner dan melampaui zamannya, sehingga beliau melalui surat-suratnya mampu mengubah paradigma dan bisa mengantarkan emansipasi perempuan. Sehingga pada saat ini pun Kartini masa kini harus mampu memiliki keberanian untuk menjadi visioner,” ujar Nawal.
Istri Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin itu menutup pesannya dengan ajakan langsung kepada seluruh perempuan. “Kartini telah memberikan cahaya pada obornya, sehingga bagaimana cahaya ini bisa lebih kita terangi lagi. Jadi, para perempuan, Kartini masa kini, jadilah independen, berdikari, berkarakter, dan berintegritas,” pungkasnya.
Peringatan Hari Kartini yang dipusatkan di Rembang bukan tanpa alasan. Kota di pesisir utara Jawa Tengah itu merupakan tempat kelahiran Raden Ajeng Kartini pada 21 April 1879—tanggal yang kini diperingati secara nasional setiap tahun. Di kota yang sama pula Kartini wafat pada 1904 dalam usia 25 tahun, meninggalkan ratusan surat yang kemudian mengubah cara pandang dunia terhadap perempuan Indonesia.
Dilansir dari laporan Jateng Prov.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman