Berita

Rupiah Tembus 17.600 per Dolar, Media Singapura Sebut Investor Mulai Gelisah

19
×

Rupiah Tembus 17.600 per Dolar, Media Singapura Sebut Investor Mulai Gelisah

Sebarkan artikel ini

Teras News — Nilai tukar rupiah merosot ke level 17.600 per dolar AS, melampaui ambang psikologis 17.000 yang selama ini dijadikan patokan pasar, dan kini menarik perhatian media internasional yang mempertanyakan ketahanan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Channel News Asia (CNA), media berbasis Singapura, menerbitkan laporan khusus bertajuk “Why is the Indonesian rupiah falling, and could confidence be cracking?” pada Kamis (21/5/2026).

“Rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia,” tulis CNA dalam laporan tersebut, dikutip Jumat (22/5/2026).

Bayangan Krisis 1998 Kembali Muncul

Bagi banyak warga Indonesia, angka 17.000 bukan sekadar batas teknis. Angka itu mengingatkan pada Krisis Keuangan Asia 1998, ketika rupiah runtuh, inflasi melonjak, bank-bank bangkrut, dan kerusuhan meluas yang akhirnya mengakhiri pemerintahan Presiden Soeharto setelah tiga dekade berkuasa.

CNA secara eksplisit menyebut keterkaitan itu dalam laporannya. “Banyak warga Indonesia mengaitkan angka ini dengan Krisis Keuangan Asia 1998,” tulis media tersebut. Meski demikian, para analis yang dikutip menekankan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding akhir 1990-an. Tekanan tetap ada, dan pasar meresponsnya.

Harga Minyak Picu Kekhawatiran Fiskal

Josua Pardede, pengamat ekonomi dari Bank Permata, menjelaskan kegelisahan investor bukan tanpa dasar. Menurutnya, harga minyak yang lebih tinggi berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi pemerintah, yang pada gilirannya menggerus kredibilitas fiskal, mendorong imbal hasil obligasi naik, sekaligus mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter.

“Kekhawatiran tersebut menyebar ke seluruh pasar keuangan,” sebut CNA dalam laporannya.

Pengamat dari perusahaan fintech Ebury yang turut dikutip CNA menyatakan kenaikan harga minyak jelas tidak menguntungkan dan memunculkan sejumlah kekhawatiran di bidang inflasi.

Saham Ikut Jatuh, Bank Sentral Turun Tangan

Tekanan tidak berhenti di pasar valuta asing. Indeks saham Indonesia turut jatuh tajam. Bank Indonesia tercatat sudah beberapa kali melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah, meski hasilnya belum cukup menghentikan tren pelemahan.

CNA juga mencatat bahwa investor kini mulai meneliti arah kebijakan ekonomi pemerintah secara lebih menyeluruh, termasuk soal kredibilitas kebijakan dan peran negara yang dinilai semakin besar dalam dunia usaha.

Dengan rupiah yang masih bertengger di kisaran 17.600 dan tekanan dari harga minyak global yang belum mereda, pasar menanti sinyal kebijakan lebih lanjut dari pemerintah maupun Bank Indonesia untuk mengembalikan kepercayaan investor.

Penulis: Dian Permata
Editor: Ratna Dewi