Teras News — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Khusus Ekspor untuk tiga komoditas strategis Indonesia: batu bara, minyak kelapa sawit, dan fero alloy. Pengumuman itu disampaikan dalam rapat bersama DPR RI membahas kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 pada Rabu (20/5).
Ketiga komoditas itu bukan pilihan sembarangan. Sepanjang 2025, batu bara, sawit, dan fero alloy bersama-sama menyumbang devisa negara sebesar Rp 1.100 triliun, menjadikannya tulang punggung penerimaan ekspor nasional.
Tujuan: Stabilkan Pasokan Dalam Negeri dan Harga Global
Commodity Expert CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta, menyebut pembentukan badan khusus ini bukan tanpa preseden. Menurut dia, konsep BUMN ekspor serupa sudah diterapkan di sejumlah negara lain. Namun ia mengingatkan bahwa pelaksanaannya di Indonesia masih harus menunggu aturan teknis yang lebih jelas.
Baca Juga:
“Sudah diterapkan di beberapa negara, namun pelaksanaannya masih harus menunggu aturan jelasnya,” kata Emanuella dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (21/5/2026).
Pengelolaan ekspor melalui satu badan khusus ini ditujukan untuk memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi sekaligus menstabilkan pasokan guna menjaga kestabilan harga di pasar global. Dua tujuan itu kerap berbenturan dalam praktik ekspor komoditas: ketika harga global tinggi, produsen cenderung mendorong lebih banyak volume ke luar negeri, yang berujung pada kelangkaan dan lonjakan harga domestik.
Fero Alloy, Komoditas Ketiga yang Masuk Skema
Selain sawit dan batu bara yang sudah lama dikenal sebagai andalan ekspor, pemerintah juga memasukkan fero alloy ke dalam skema BUMN Khusus Ekspor ini. Fero alloy adalah paduan besi dengan unsur logam lain seperti nikel, mangan, atau silikon, yang banyak digunakan dalam industri baja dan manufaktur global. Masuknya fero alloy mencerminkan arah hilirisasi mineral yang selama ini didorong pemerintah.
Ketiga komoditas ini memiliki karakteristik berbeda dari sisi siklus harga, struktur pasar, dan ketergantungan domestik. Batu bara, misalnya, masih menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik dalam negeri. Sawit menjadi bahan baku minyak goreng dan biodiesel. Fero alloy berkaitan langsung dengan program industrialisasi logam nasional. Pengelolaan ekspor ketiganya dalam satu atap BUMN menjadi tantangan tersendiri dari sisi tata kelola.
Aturan Teknis Jadi Kunci
Pengumuman Prabowo baru sebatas pernyataan kebijakan dalam forum anggaran. Belum ada rancangan peraturan pemerintah atau keputusan presiden yang mengatur struktur, kewenangan, maupun mekanisme pengawasan BUMN Khusus Ekspor tersebut. Emanuella menegaskan bahwa detail aturan itulah yang akan menentukan efektivitas badan baru ini di lapangan.
Publik dan pelaku industri kini menunggu tindak lanjut konkret dari pengumuman tersebut, khususnya regulasi yang akan mengatur hubungan antara BUMN baru ini dengan eksportir swasta yang selama ini mendominasi perdagangan ketiga komoditas itu.
Editor: Arif Budiman