Teras News — Puluhan anak perusahaan Telkom terancam tutup dalam waktu dekat. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) meminta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memangkas portofolio anak usahanya dari 67 entitas menjadi hanya 22, sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran BUMN telekomunikasi pelat merah tersebut.
Sepuluh anak perusahaan dijadwalkan tutup paling lambat akhir Juni 2026. Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menyampaikan hal itu di Jakarta, Rabu (25/6). “Akhir Juni ini kita diminta menutup 10 anak perusahaan. Dan, insya Allah kita komit bisa menutup 10 anak perusahaan, jadi dari 67 itu, pemangkasan 10 di antaranya terjadi di akhir bulan Juni, bulan depan,” kata Seno.
Bisnis Tumpang Tindih Jadi Sasaran Utama Pemangkasan
Seno menjelaskan, Telkom kini tengah mengkaji anak-anak perusahaan yang memiliki lini bisnis hampir sama atau saling tumpang tindih. Entitas-entitas itulah yang menjadi prioritas pertama untuk dikonsolidasi atau ditutup. “Memang secara bisnis kita juga sudah melakukan pertimbangan, kita melakukan analisa bahwa streamlining ini, terutama yang overlap, yang bisnis-bisnisnya berada di bidang yang sama. Itu salah satu yang akan kita watch,” jelasnya.
Baca Juga:
Kinerja buruk selama dua tahun terakhir juga masuk daftar pertimbangan. Anak perusahaan dengan performa kurang optimal ikut masuk radar untuk dipangkas.
Nama-nama anak perusahaan yang akan ditutup belum diumumkan. Seno beralasan ada sejumlah pendekatan dan pertimbangan sensitivitas yang masih perlu dikelola. “Menurut saya nanti diumumkan. Karena kita ada beberapa pendekatan dan pertimbangan sensitivitas. Tapi bisa disampaikan nanti,” ujarnya.
Proses Bertahap, Tata Kelola Jadi Prioritas
Target pemangkasan total memang ambisius: dari 67 anak perusahaan menjadi 22. Namun Seno menegaskan prosesnya tidak bisa dipaksakan serentak. Telkom harus memastikan setiap tahapan berjalan dengan tata kelola yang benar. “Kita mesti memastikan governance process-nya betul, hipotesanya dan tahapannya semuanya betul,” kata dia.
Proses konsolidasi ini sejalan dengan transformasi peran Telkom sebagai induk usaha strategis (strategic holding), di mana operasional bisnis sehari-hari akan dijalankan oleh entitas operating company di masing-masing lini usaha. Penataan portofolio ini, menurut Seno, bertujuan menciptakan nilai tambah yang lebih besar sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan secara keseluruhan.
Restrukturisasi skala besar seperti ini lazim dilakukan korporasi besar yang selama bertahun-tahun mengembangkan anak usaha secara masif. Struktur yang terlalu gemuk kerap membebani induk perusahaan dengan biaya operasional dan administrasi yang tidak efisien, sehingga konsolidasi menjadi pilihan untuk mempertajam fokus bisnis inti.
Publik kini menanti pengumuman resmi daftar 10 anak perusahaan Telkom yang akan ditutup sebelum Juni berakhir, sekaligus memantau apakah target pemangkasan besar-besaran hingga 22 entitas tersebut dapat terpenuhi sesuai jadwal yang diminta Danantara.
Editor: Surya Dharma