Internasional

107.000 Warga Swiss Tinggalkan Gereja pada 2023, Pajak Jadi Pemicu Utama

14
×

107.000 Warga Swiss Tinggalkan Gereja pada 2023, Pajak Jadi Pemicu Utama

Sebarkan artikel ini

Teras News — Lebih dari 107.000 warga Swiss secara resmi mengundurkan diri dari keanggotaan gereja sepanjang 2023, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar dari mereka memilih keluar bukan karena alasan keyakinan, melainkan untuk menghindari pajak gereja yang wajib dibayar setiap anggota terdaftar.

Di Swiss, pajak gereja (kirchensteuer) bukan sekadar urusan rohani. Warga yang terdaftar sebagai anggota gereja yang diakui negara otomatis terkena pungutan tambahan dengan tarif antara 1% hingga 3% dari penghasilan, tergantung kebijakan kanton (provinsi) tempat tinggal mereka. Satu-satunya cara keluar dari kewajiban ini adalah keluar dari keanggotaan gereja secara resmi.

67.000 Keluar dari Gereja Katolik, Hampir Dua Kali Lipat dari Tahun Sebelumnya

Menurut laporan media lokal Le News, sebanyak 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik pada 2023. Angka itu hampir dua kali lipat dibanding 2022. Gereja Protestan mencatat keluarnya 39.517 anggota pada tahun yang sama. Jika digabung, sekitar 107.000 warga Swiss resmi memutus hubungan kelembagaan dengan gereja dalam satu tahun.

Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) mencatat kanton Basel-Stadt di Swiss utara sebagai wilayah dengan tingkat pengunduran diri tertinggi, mencapai 4,5%. Kanton tersebut memiliki mekanisme yang memungkinkan warga berhenti dari keanggotaan gereja secara administratif, sehingga secara otomatis terbebas dari kewajiban pajak terkait.

Pola di Kanton Berpajak Gereja Lebih Tinggi

Korelasi antara pajak dan gelombang pengunduran diri ini bukan sekadar dugaan. “Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi,” demikian laporan Religion Watch yang dikutip CNBC Indonesia.

Pajak bukan satu-satunya faktor. Tren sekularisme yang meluas di Eropa Barat turut mendorong warga Swiss menjauh dari institusi keagamaan. Sejumlah skandal internal di lingkungan gereja juga disebut mempercepat keputusan banyak orang untuk keluar.

Sepertiga Populasi Swiss Kini Tak Beragama

Pergeseran ini berlangsung bertahun-tahun. Survei dan data demografis menunjukkan sekitar 34% warga Swiss mengidentifikasi diri sebagai ateis pada 2022, naik dari generasi sebelumnya. Angka itu mencerminkan bahwa sebagian warga yang keluar dari gereja bukan sekadar menghindari pajak, melainkan memang sudah tidak lagi merasa berafiliasi dengan agama tertentu.

Swiss sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan beban pajak tertinggi di dunia. Pajak gereja menjadi salah satu pos pengeluaran yang kini semakin banyak dipertanyakan warganya, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang tinggi di negara tersebut. Tren pengunduran diri massal dari gereja kemungkinan akan terus dipantau oleh lembaga keagamaan dan pemerintah kanton dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma