Berita

Peluang Resesi Indonesia di Bawah 5%, Airlangga: Lebih Rendah dari AS dan Jepang

10
×

Peluang Resesi Indonesia di Bawah 5%, Airlangga: Lebih Rendah dari AS dan Jepang

Sebarkan artikel ini

Teras News — Di bawah 5% — itulah probabilitas Indonesia mengalami resesi, angka yang diklaim lebih rendah dibanding Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Pernyataan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global yang makin terasa.

Airlangga menyampaikan angka tersebut dalam International Seminar on Debottlenecking Channel di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Ia menegaskan fondasi ekonomi domestik masih cukup kokoh untuk menopang pertumbuhan.

“Probabilitas Indonesia mengalami resesi juga tetap sangat rendah, yakni di bawah 5%, lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada. Hal ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia serta kapasitas pertumbuhan yang tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” kata Airlangga.

Ekonomi Tumbuh 5,61% di Kuartal Pertama 2026

Klaim tersebut bukan tanpa data pendukung. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61%. Inflasi terjaga di angka 2,42%, dan keyakinan konsumen disebut masih kuat. Neraca perdagangan pun terus mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut, didukung stabilitas sektor keuangan dan cadangan devisa yang solid.

Bagi masyarakat umum, angka-angka ini bisa terasa abstrak. Namun pertumbuhan ekonomi yang terjaga berarti daya beli tetap ada, lapangan kerja tidak anjlok drastis, dan harga barang tidak melonjak liar seperti yang terjadi di sejumlah negara lain yang tertekan resesi.

Perpres Nomor 4 Tahun 2026: Satgas Khusus Percepatan Program Pemerintah

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Presiden Prabowo Subianto telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi, atau yang disingkat Satgas P3-MPPE.

Satgas ini dirancang untuk memangkas hambatan birokrasi lintas kementerian dan lembaga, mempercepat penyelesaian sumbatan dalam pelaksanaan program strategis nasional. Airlangga menyebut mekanisme debottlenecking — yaitu proses identifikasi dan pembongkaran hambatan investasi secara sistematis — punya tiga fungsi utama: menangkap hambatan secara real time, menyediakan kanal langsung bagi investor yang ingin menyampaikan kendala, serta mengubah masukan itu menjadi rekomendasi kebijakan yang bisa segera ditindaklanjuti.

Dengan kata lain, investor yang selama ini mengeluh panjangnya antrean perizinan atau tumpang tindih regulasi kini punya jalur resmi untuk melapor langsung ke pemerintah.

Pemerintah Incar Posisi sebagai Pusat Pertumbuhan Dunia

Pemerintah menyatakan optimistis Indonesia bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia di tengah gejolak global. Syaratnya: gerak cepat, koordinasi solid, dan konsistensi implementasi kebijakan.

“Mari kita ubah hambatan-hambatan ini menjadi saluran yang terbuka lebar untuk kemakmuran bersama. Saya berharap seminar ini dapat menghasilkan diskusi yang produktif dan memberikan berbagai masukan yang konstruktif,” ujar Airlangga.

Publik dan kalangan pelaku usaha kini menunggu apakah klaim ketahanan ekonomi itu benar-benar terasa di lapangan, terutama seiring berlanjutnya tekanan dari perang dagang global dan fluktuasi harga komoditas yang belum mereda.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma