Internasional

Wang Yi Sambangi Kamboja, Thailand, dan Myanmar: Manuver Diplomatik China di Tengah Guncangan Tarif AS

8
×

Wang Yi Sambangi Kamboja, Thailand, dan Myanmar: Manuver Diplomatik China di Tengah Guncangan Tarif AS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ketika hubungan sejumlah negara Asia Tenggara dengan Amerika Serikat terguncang oleh kebijakan tarif dagang dan gangguan pasokan energi global, China justru menggerakkan diplomat paling seniornya ke kawasan ini. Menteri Luar Negeri China Wang Yi memulai rangkaian kunjungan ke Kamboja, Thailand, dan Myanmar — tiga negara yang disebut sebagai pihak paling terpukul oleh disrupsi energi global saat ini.

Kunjungan itu dimulai Rabu (22/4), dengan Kamboja sebagai pembuka. Wang Yi kemudian dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Thailand, lalu ke Myanmar. Agenda kunjungan tidak hanya menyentuh kerja sama ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi pertahanan dan aliansi keamanan.

Beijing Tawarkan Diri sebagai Mitra Stabil di Tengah Gejolak Global

Jurnalis Al Jazeera Patrick Fok, melaporkan dari Hong Kong, menggambarkan kunjungan Wang Yi sebagai bagian dari eskalasi aktivitas diplomasi Beijing yang terencana. “Kita telah melihat sederet pemimpin dunia melakukan perjalanan ke Beijing dalam beberapa pekan terakhir, dan Beijing sedang meningkatkan diplomasi,” kata Fok.

China ingin tampil sebagai alternatif. Bukan sekadar mitra dagang, melainkan penyeimbang pengaruh Washington di kawasan yang kini dilanda ketidakpastian ekonomi. Strategi itu dijalankan secara terbuka — Beijing menawarkan diri sebagai solusi di tengah ketegangan yang memisahkan negara-negara Asia Tenggara dari Barat.

“Wang Yi akan mengunjungi Kamboja pada hari pertama, dan dia kemudian akan menuju Thailand dan kemudian ke Myanmar untuk memperdalam hubungan dengan negara-negara tersebut,” jelas Fok.

Tiga Negara Tujuan: Sasaran Tarif AS dan Gangguan Energi Sekaligus

Kamboja, Thailand, dan Myanmar bukan dipilih secara acak. Ketiganya menghadapi tekanan ganda: terhantam kebijakan tarif dagang yang diberlakukan pemerintah Washington, sekaligus menanggung dampak gangguan pasokan energi yang mengguncang rantai pasok global. Kondisi ini yang disebut Fok sebagai celah strategis bagi Beijing.

“Negara-negara ini juga merupakan negara-negara yang terpukul sangat keras oleh gangguan pasokan energi,” kata Fok. China, menurutnya, melihat momen ini sebagai peluang untuk mengambil keuntungan dari keretakan hubungan negara-negara tersebut dengan Amerika Serikat.

Wang Yi sendiri kerap disebut sebagai “tangan kanan” Presiden Xi Jinping dalam urusan kebijakan luar negeri. Kapasitasnya sebagai perancang utama diplomasi Beijing menjadikan kunjungan ini bukan sekadar kunjungan protokoler biasa.

Kawasan Asia Tenggara Jadi Arena Perebutan Pengaruh

Asia Tenggara kini berada di persimpangan. Di satu sisi, kawasan ini secara historis menjalin hubungan ekonomi dan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat. Di sisi lain, China — sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia — terus memperluas jaringan pengaruhnya melalui investasi, infrastruktur, dan kini diplomasi langsung tingkat tinggi.

Kunjungan Wang Yi kali ini mencerminkan pendekatan Beijing yang memanfaatkan krisis keamanan energi dan tekanan tarif sebagai pintu masuk untuk memperdalam ikatan bilateral. Fokusnya bukan satu sektor saja — pertahanan dan aliansi keamanan turut masuk dalam agenda pembicaraan.

Dilansir dari laporan Al Jazeera.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman