Teras News — 6.000 meter persegi. Itu luas ruang yang dipakai sebuah museum es krim di Shenyang, ibu kota Provinsi Liaoning, China, untuk mengubah pengalaman makan camilan beku menjadi petualangan yang bisa dinikmati seisi keluarga.
Museum yang berdiri di Distrik Dadong ini bukan sekadar tempat memajang produk. Di dalamnya, pengunjung disambut 11 zona bertema utama yang masing-masing dirancang dengan konsep berbeda, mulai dari ruang pamer mesin pembuat es krim antik hingga area interaktif tempat wisatawan bisa mencoba membuat es krim dengan tangan mereka sendiri.
Mesin Antik Berusia Panjang Jadi Daya Tarik Utama
Koleksi mesin pembuat es krim bersejarah menjadi salah satu magnet terkuat museum ini. Peralatan-peralatan tersebut merekam evolusi industri es krim dari masa ke masa, memperlihatkan betapa jauh teknologi pengolahan makanan beku berkembang sebelum akhirnya hadir dalam bentuk yang kini dengan mudah kita temui di minimarket.
Baca Juga:
Bagi anak-anak, bagian ini terasa seperti lorong waktu. Bagi orang tua yang menemani, ada nilai nostalgia sekaligus pengetahuan yang tidak mereka dapatkan dari buku teks.
Edukasi Rasa: Bikin Es Krim Sendiri
Pengalaman membuat es krim langsung menjadi sesi yang paling banyak diminati. Pengunjung dibimbing untuk meracik dan mencetak es krim mereka sendiri, sebuah aktivitas yang mengaburkan batas antara bermain dan belajar.
Konsep ini sejalan dengan tren wisata edukatif (edutainment) yang makin populer di kota-kota besar China, di mana destinasi rekreasi dituntut memberikan lapisan pengalaman yang lebih dalam daripada sekadar foto-foto. Shenyang sendiri dikenal luas sebagai kota industri berat, sehingga kehadiran museum bertema makanan seperti ini menawarkan wajah kota yang berbeda dari citranya selama ini.
Shenyang Kembangkan Wisata Bertema Kuliner
Museum es krim ini bukan satu-satunya di jenisnya. Shenyang tercatat memiliki beberapa museum dengan tema makanan, menunjukkan bahwa kota ini secara aktif mengembangkan sektor pariwisata berbasis kuliner dan budaya sebagai pelengkap industri manufaktur yang selama puluhan tahun mendominasi ekonomi lokal.
Distrik Dadong, tempat museum ini berada, tergolong kawasan yang terus berbenah sebagai pusat rekreasi dan gaya hidup warga kota.
Dengan luas area yang setara lebih dari delapan lapangan bulu tangkis dan sebelas zona yang bisa dijelajahi, museum ini tampaknya membutuhkan waktu kunjungan lebih dari sekadar satu jam. Popularitasnya di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara terus tumbuh, seiring meningkatnya minat publik terhadap destinasi yang menggabungkan cerita, pengalaman, dan tentu saja, camilan yang bisa langsung dinikmati di tempat.
Editor: Arif Budiman