Teras News — Kapasitas penyimpanan BBM nasional saat ini akan bertambah 3,1 persen begitu tiga fasilitas tangki baru selesai dibangun. Angka itu terdengar kecil, tapi bagi warga di wilayah timur Indonesia yang selama ini menanggung harga BBM lebih mahal dibanding daerah lain, proyek ini bisa berdampak langsung pada dompet mereka.
Pemerintah resmi memulai pembangunan tiga terminal BBM baru yang disinergikan melalui BPI Danantara, Kamis (30/4/2026). Ketiga lokasi yang dipilih adalah Palaran di Kalimantan Timur, Biak di Papua, dan Maumere di Nusa Tenggara Timur. Total kapasitas tambahan yang disasar mencapai 153 ribu kiloliter (KL), dengan rincian Palaran mendapat tangki berkapasitas 37 ribu KL, Biak 46 ribu KL, dan Maumere 70 ribu KL.
Maumere Lebih Dulu, Palaran dan Biak Menyusul 2028
Proyek ini dikelola oleh PT Pertamina Patra Niaga. Jadwal operasionalnya bertahap: Maumere ditargetkan mulai berfungsi pada 2027, sedangkan Palaran dan Biak baru menyusul pada 2028.
Baca Juga:
Danantara menjelaskan tujuan utama pembangunan ini dalam keterangan tertulisnya. “Proyek ini memperkuat keandalan distribusi energi, khususnya di wilayah Indonesia Timur, sehingga mendorong pemerataan pembangunan dan memperkecil kesenjangan harga antarwilayah,” tulis Danantara.
Kesenjangan harga BBM antara Jawa dan kawasan timur Indonesia memang kerap dikeluhkan. Di sejumlah daerah terpencil Papua dan NTT, harga BBM eceran bisa jauh melampaui harga resmi karena rantai distribusi yang panjang dan minimnya fasilitas penyimpanan lokal. Kehadiran terminal baru di Biak dan Maumere diharapkan memangkas mata rantai itu.
Bagian dari Program Hilirisasi Lebih Besar
Pembangunan tiga tangki ini bukan proyek tunggal yang berdiri sendiri. Program yang sama juga mencakup sektor energi, logam dan mineral, material konstruksi, serta agroindustri. Danantara menyebut seluruh program tersebut diarahkan untuk menurunkan ketergantungan impor, memperkuat rantai pasok industri nasional, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri.
“Hilirisasi merupakan instrumen strategis dalam mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan dan industrialisasi sumber daya alam,” demikian pernyataan Danantara.
Penguatan rantai pasok domestik juga disebut sebagai respons terhadap ketidakpastian global, termasuk tekanan geopolitik yang dalam beberapa tahun terakhir mengganggu jalur distribusi energi dunia.
Dengan target operasional bertahap mulai 2027, publik di tiga wilayah tersebut kini menunggu apakah realisasi proyek ini berjalan sesuai jadwal, mengingat pembangunan infrastruktur energi di kawasan timur Indonesia kerap menghadapi tantangan logistik yang tidak ringan.
Editor: Surya Dharma