Berita

Panen 3 Kali Setahun, Petani Rembang Andalkan Alsintan Hadapi El Nino Godzilla 2026

4
×

Panen 3 Kali Setahun, Petani Rembang Andalkan Alsintan Hadapi El Nino Godzilla 2026

Sebarkan artikel ini

Teras News — 35 hektare sawah, 80 petani, tiga kali panen dalam setahun. Angka itu kini menjadi kenyataan di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Rembang, di tengah ancaman El Nino Godzilla yang diprediksi akan memukul sektor pertanian Indonesia sepanjang 2026.

Kamis (21/5/2026), areal persawahan Mojorembun tidak tampak lesu meski terik matahari menyengat. Combine harvester bergerak memanen padi, transplanter mengisi petak-petak kosong dengan benih baru, dan mesin bed dryer (pengering gabah) bekerja memproses hasil panen sebelum diolah menjadi beras. Semua berjalan bersamaan.

Dari Satu Kali Panen ke Tiga Kali Berkat Irigasi Perpompaan

Karyono, anggota Kelompok Tani Budi Luhur, menyebut perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Dahulu, lahan di Mojorembun hanya mampu ditanami padi satu kali setahun. Dua kali tanam pun baru bisa tercapai kalau curah hujan tinggi.

“Alhamdulillah, sejak mendapat bantuan irpom (irigasi perpompaan) dari pemerintah pusat, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” kata Karyono.

Kelompok Tani Budi Luhur menerima bantuan dari beberapa lini sekaligus. Bed dryer datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Irigasi perpompaan dan combine harvester berasal dari Kementerian Pertanian. Transplanter disuplai Pemerintah Kabupaten Rembang. Pasokan air turut ditopang dari Bendung Randugunting, dengan rencana perpipaan ke sawah-sawah yang jauh dari aliran sungai.

Produktivitas lahan di wilayah ini mencapai 7 hingga 7,5 ton per hektare, angka yang terbilang solid untuk sawah irigasi teknis di Jawa Tengah bagian utara.

Musim Tanam Ketiga Tetap Jalan, Cuaca Masih Berpihak

Petani Desa Mojorembun lainnya, Rujito, mengaku sudah bersiap masuk musim tanam ketiga (MT 3) begitu sawahnya usai panen. Informasi soal El Nino Godzilla ia terima dari televisi, tapi kondisi di lapangan membuatnya tetap melangkah.

“Kita tahunya akan ada kemarau panjang dari televisi. Namun, kami di sini melihat cuaca sampai saat ini masih memungkinkan, sehingga memberanikan diri memulai musim tanam ketiga,” ujar Rujito.

Karyono menambahkan, hujan masih turun hampir setiap minggu sehingga dampak kemarau belum terasa signifikan. Pengurus kelompok tani berencana memaksimalkan pompa irigasi untuk mengalirkan air dari sungai ke lahan-lahan yang sudah siap diolah.

Ancaman Intrusi Air Laut Jadi Pekerjaan Rumah

Optimisme itu bukan tanpa catatan kekhawatiran. Karyono menyebut intrusi air laut sebagai ancaman yang belum terpecahkan. Kelompok taninya sudah beberapa kali mencoba membuat tanggul nonpermanen di sungai, tapi selalu ambrol.

“Harapannya dibantu tanggul di sungai agar air laut tidak masuk sampai ke sini dan memengaruhi pasokan air baku petani dan warga,” pintanya.

Tanpa perlindungan dari intrusi air laut, sumber air tawar untuk irigasi bisa terkontaminasi, terutama saat musim kemarau panjang ketika debit sungai menyusut dan air laut lebih mudah menerobos masuk ke daratan.

Jateng Kejar Target 10,5 Juta Ton Padi di Akhir 2026

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengakui potensi ancaman cuaca kering terhadap target produksi padi provinsi sebesar 10,5 juta ton pada akhir 2026. Percepatan masa tanam di daerah-daerah yang masih mendapat hujan menjadi salah satu respons yang disiapkan.

Apa yang terjadi di Mojorembun menjadi gambaran nyata dari strategi itu: manfaatkan jendela waktu sebelum kemarau benar-benar mencekik, dorong petani masuk MT 3 selagi air masih ada, dan pastikan alsintan siap di lapangan.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Arif Budiman