Berita

Bauran EBT Jateng Capai 22,33 Persen, 2.331 Desa Mandiri Energi Sudah Berdiri

14
×

Bauran EBT Jateng Capai 22,33 Persen, 2.331 Desa Mandiri Energi Sudah Berdiri

Sebarkan artikel ini

Teras News — Bauran energi baru terbarukan (EBT) di Jawa Tengah baru menyentuh angka 22,33 persen dari total kebutuhan energi provinsi. Angka itu menjadi titik tolak yang mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat transisi energi, seiring peringatan Hari Bumi 2026 yang digelar di Bale Agung Horison Resort Tlogo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Rabu (13/5/2026).

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen hadir langsung dalam peringatan itu dan menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan. “Transisi energi menuju energi baru terbarukan bukan hanya pilihan, tapi keharusan. Tanpa upaya ini, krisis energi dan krisis iklim akan menjadi ancaman yang nyata,” katanya.

2.331 Desa Mandiri Energi, Mayoritas Masih Tahap Awal

Di balik angka bauran 22,33 persen itu, Pemprov Jateng sudah menjalankan Program Desa Mandiri Energi yang kini menjangkau 2.331 desa. Namun, sebagian besar masih di kategori inisiatif, yakni 2.138 desa. Hanya 28 desa yang masuk kategori mapan, dan 165 desa berstatus berkembang. Artinya, perjalanan menuju kemandirian energi di akar rumput masih panjang.

Bagi warga desa yang masuk kategori inisiatif, program ini belum memberikan dampak maksimal. Mereka baru memulai, dan akses terhadap sumber energi bersih yang stabil belum sepenuhnya terwujud.

Kapasitas EBT Terpasang: dari Mikro Hidro hingga Panas Bumi

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto, merinci kapasitas infrastruktur EBT yang sudah terbangun hingga 2026. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menjadi yang terbesar dengan kapasitas 322 MW, disusul Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng Unit 1 dan skala kecil sebesar 60 MW. PLT Mikro dan Mini Hidro menyumbang 38 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap 89,5 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) 8 MW, serta biogas 40 ribu meter kubik.

Warga Jawa Tengah juga mulai beralih ke kendaraan listrik. Pada triwulan I 2026, jumlah kendaraan listrik di provinsi ini tercatat 22.434 unit, dengan dukungan 283 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang tersebar di berbagai titik.

IESR: Ekonomi Hijau Jadi Arah Kerja Sama sejak 2019

Institute for Essential Services Reform (IESR), lembaga riset kebijakan energi yang berbasis di Jakarta, ikut hadir dan menyatakan dukungannya. Direktur Utama IESR Fabby Tumiwa mengungkapkan kerja sama dengan Pemprov Jateng sudah berlangsung sejak 2019, awalnya berfokus pada pemanfaatan energi surya sebelum kemudian diperluas ke pengembangan EBT secara lebih luas.

“Kerja sama ini dimaksudkan untuk membantu dan mendukung upaya Jawa Tengah membangun ekonomi, dengan cara lebih hijau atau mengurangi dampak lingkungan,” ujar Fabby. Ia juga mengingatkan bahwa sumber daya alam yang dinikmati saat ini bukan milik generasi sekarang sepenuhnya. “Apa yang kita nikmati hari ini sebenarnya kita pinjam dari generasi masa depan.”

Dalam acara yang sama, Pemprov Jateng menyerahkan penghargaan Jateng Energy Transition Awards kepada tiga kabupaten: Boyolali, Brebes, dan Rembang. Penghargaan Desa Mandiri Energi juga diserahkan kepada Desa Manggihan, Kabupaten Semarang, sebagai pengakuan atas kemajuan mereka dalam pemanfaatan energi bersih di tingkat desa.

Taj Yasin menambahkan, tema global Hari Bumi 2026, “Our Power Our Planet”, mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga bumi tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan generasi muda sama-sama diminta ambil bagian dalam mendorong transisi energi yang berkeadilan dan berbasis kearifan lokal.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman