Berita

8 Juta Bibit Kakao Siap Disebar ke Petani Luwu, Benih Bersumber dari Kebun Bersertifikat

7
×

8 Juta Bibit Kakao Siap Disebar ke Petani Luwu, Benih Bersumber dari Kebun Bersertifikat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jutaan petani kakao di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, berpotensi mendapat dorongan besar untuk meningkatkan hasil panen mereka. Sebanyak 8 juta bibit kakao dari program pemerintah pusat kini siap didistribusikan, seluruhnya bersumber dari kebun-kebun yang telah mengantongi sertifikasi resmi sebagai sumber benih dan entres.

Bupati Luwu Patahudding mengonfirmasi bantuan tersebut saat meninjau perkebunan kakao bersertifikat milik warga di Desa Padang Kamburi, Kecamatan Bupon, Minggu. Kebun yang ditinjau adalah milik H. Malle dan H. Rahman, yang sudah mendapat sertifikasi sumber benih dari Puslitkoka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia).

Klon ICCRI hingga Sulawesi 2 Jadi Andalan Luwu

Kabupaten Luwu tidak hanya mengembangkan satu jenis bibit. Patahudding menyebut ada beberapa klon unggul yang sudah dikembangkan di wilayahnya, yakni klon ICCRI, Buntu Batu (BB), 45, dan Sulawesi 2 (S2). Semua klon tersebut telah bersertifikasi, artinya kualitas dan legalitasnya terjamin.

Klon unggul kakao adalah varietas hasil seleksi yang memiliki keunggulan spesifik, seperti produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama, atau kandungan lemak biji yang lebih baik. Penggunaan bibit bersertifikat menjadi kunci agar petani tidak merugi akibat bibit palsu atau kualitas rendah.

“Alhamdulillah dengan adanya program dari Bapak Presiden RI melalui Kementerian Pertanian, kita mendapatkan bantuan 8 juta bibit kakao untuk Kabupaten Luwu,” kata Patahudding.

Luwu Ditawarkan Jadi Sumber Benih bagi Daerah Lain

Keberhasilan mengembangkan bibit bersertifikat membuat Patahudding percaya diri menawarkan Luwu sebagai pusat sumber benih bagi daerah lain yang membutuhkan. Menurutnya, daerah mana pun yang ingin mendapatkan bibit kakao berkualitas bisa menjadikan Luwu sebagai rujukan.

Tawaran itu bukan tanpa dasar. Proses sertifikasi dari Puslitkoka memastikan bahwa bibit yang dihasilkan dari kebun-kebun di Luwu memenuhi standar mutu nasional, sehingga petani penerima tidak perlu khawatir soal keaslian genetik tanaman.

Patahudding juga meminta seluruh penyuluh pertanian dan pemangku kepentingan di Luwu untuk aktif mendampingi petani. Tanpa pendampingan yang baik, distribusi jutaan bibit berisiko tidak memberikan dampak optimal di lapangan.

Program distribusi 8 juta bibit kakao ini menjadi salah satu yang terbesar yang pernah diterima Kabupaten Luwu. Keberhasilan penyerapan dan penanaman bibit oleh petani dalam waktu dekat akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap produksi kakao daerah ke depan.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman