Kesehatan

AKI Indonesia 140 per 100 Ribu Kelahiran, Kemenkes Kejar Target 40 Lewat Teknologi AI Deteksi Preeklamsia

9
×

AKI Indonesia 140 per 100 Ribu Kelahiran, Kemenkes Kejar Target 40 Lewat Teknologi AI Deteksi Preeklamsia

Sebarkan artikel ini

Teras News — Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih bertengger di angka 140 per 100 ribu kelahiran hidup. Kementerian Kesehatan kini menetapkan target memangkas angka itu hingga 40 per 100 ribu kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan — penurunan lebih dari dua pertiga — dengan mengandalkan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan Internet of Medical Things (IoMT) untuk mendeteksi preeklamsia lebih awal.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan target itu di Jakarta, Rabu (23/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Preeklamsia — kondisi tekanan darah tinggi yang berbahaya selama kehamilan — menyumbang sekitar 25 persen dari seluruh kasus kematian ibu di Indonesia, menjadikannya penyebab kematian kedua terbesar bagi ibu hamil di negeri ini.

Target Turun dari 140 ke 40: Ibu Hamil di Puskesmas Kini Bisa USG Arteri

“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” kata Budi Gunadi.

Bagi ibu hamil di daerah, perubahan ini terasa nyata. Puskesmas yang selama ini terbatas dalam skrining kehamilan kini mulai diperkuat dengan alat ultrasonografi (USG). Kemenkes mengklaim telah mendistribusikan perangkat USG ke 10 ribu puskesmas di seluruh Indonesia sejak 2022 — artinya deteksi dini tidak lagi hanya bisa dilakukan di rumah sakit kota besar.

Inovasi terbaru yang diperkenalkan melangkah lebih jauh: USG kini diarahkan khusus ke arteri uterina dan arteri oftalmik untuk membaca tanda-tanda preeklamsia dengan akurasi lebih tinggi. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menyebut hasil awalnya menjanjikan.

“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” ujar Endang.

Kematian Ibu Bukan Sekadar Soal Medis

Kemenkes menggandeng tiga mitra dalam pengembangan sistem ini: Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute. Ketiganya mengembangkan platform skrining berbasis IoMT — jaringan perangkat medis yang terhubung secara digital — dan AI untuk membantu tenaga kesehatan di lapangan mengenali risiko preeklamsia lebih cepat.

Founder dan CEO Queenrides Iim Fahima Jachya menekankan bahwa masalah ini melampaui batas-batas klinik. “Hingga hari ini, preeklamsia masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan,” katanya.

Artinya, bagi jutaan ibu hamil di Indonesia — terutama mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan lengkap — keberhasilan program ini bergantung pada seberapa merata teknologi itu benar-benar menjangkau puskesmas di pelosok, bukan hanya di kota.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Ratna Dewi