Kesehatan

Bukan untuk Kosmetik, Bedah Bariatrik Pangkas Lambung 70 Persen demi Hilangkan Komorbid Obesitas

12
×

Bukan untuk Kosmetik, Bedah Bariatrik Pangkas Lambung 70 Persen demi Hilangkan Komorbid Obesitas

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rabu di Jakarta, dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria menyampaikan sesuatu yang kerap disalahpahami publik soal bedah bariatrik: operasi ini bukan untuk membuat pasien tampil lebih langsing atau cantik. Dokter spesialis konsultan bedah digestif itu menegaskan, tujuan utama prosedur tersebut adalah memulihkan fungsi normal tubuh dan menghilangkan penyakit penyerta yang mengancam jiwa.

“Bedah bariatrik metabolik ini adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi normal atau mengurangi komorbid. Jadi bukan untuk kosmetik, salah. Bahwa saja dia kurus kemudian dia menjadi lebih cantik, yaitu adalah efek samping. Efek utamanya adalah menghilangkan komorbid,” kata dr. Errawan dalam pemaparan medis di Jakarta.

Siapa yang Boleh Menjalani Operasi Ini?

Tidak semua penderita obesitas otomatis memenuhi syarat. Kriteria utama ditentukan lewat perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Pasien dengan BMI di atas 35, yang masuk kategori Obesitas Kelas 2, sudah diindikasikan untuk operasi. Pasien Obesitas Kelas 1 dengan BMI 30 hingga 34,9 pun bisa menjalaninya, asal memiliki penyakit penyerta yang berbahaya.

Penyakit penyerta yang dimaksud mencakup hipertensi, diabetes melitus, gangguan tidur berat (obstructive sleep apnea/OSA, yakni kondisi pernapasan terhenti saat tidur), sakit lutut parah akibat beban tubuh berlebih, hingga ketidakseimbangan hormonal pada perempuan. Jika BMI pasien sudah melampaui angka 50, diperlukan prosedur tambahan di luar pengecilan lambung, seperti bypass usus.

Soal usia, tindakan ini bisa dilakukan pada pasien antara 15 hingga 70 tahun, dengan syarat kondisi organ vital lulus pemeriksaan ketat sebelum operasi.

Lambung Dipotong hingga Tersisa 30 Persen

Dalam prosedur bariatrik, kapasitas lambung dipangkas hingga 70 persen. Hanya sekitar 30 persen yang tersisa. Perubahan drastis ini memaksa pola makan pasien berubah total secara bertahap: minggu pertama pasca-operasi hanya boleh mengonsumsi makanan cair, minggu kedua makanan semi-cair, minggu ketiga bergeser ke makanan semi-padat seperti bubur. Peran ahli gizi dalam fase ini menjadi sangat krusial.

Proses menuju meja operasi pun jauh dari sekadar mendaftar dan langsung dioperasi. Dr. Errawan menekankan perlunya kolaborasi multidisiplin yang melibatkan dokter bedah, ahli gizi, serta psikolog atau psikiater.

Kondisi Kejiwaan Jadi Syarat Wajib

Sebelum operasi diputuskan, kondisi mental pasien harus dinilai lebih dulu oleh psikolog atau psikiater. Pasien dengan gangguan psikologis berat yang tidak stabil, termasuk bipolar, tidak disarankan untuk menjalani prosedur ini. Alasannya jelas: komitmen pasca-operasi menuntut stabilitas mental yang kuat, karena pasien harus mengubah total gaya hidup mereka seumur hidup.

Bagi pasien yang memenuhi seluruh syarat medis dan psikologis, bedah bariatrik menawarkan harapan nyata untuk lepas dari lingkaran komplikasi obesitas yang selama ini membebani kualitas hidup mereka sehari-hari.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma