Teras News — Jakarta, 25 Juni 2026 — Hasil tangkapan nelayan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Binyeri, Biak, Papua, kini tidak lagi berakhir di pasar tradisional setempat. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengubah alur pemasaran ikan di sana secara menyeluruh, dari penjualan eceran ke pasar lokal menjadi pengiriman langsung ke jaringan ekspor melalui fasilitas rantai dingin yang dibangun di kawasan kampung nelayan tersebut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan perubahan itu dalam forum Economic Update 2026 CNBC Indonesia pada 25 Juni 2026. Ia menyebut Binyeri sebagai proyek percontohan sebelum model serupa direplikasi ke kampung nelayan lain di seluruh Indonesia.
“Dari model yang di Binyeri, itu ternyata yang semula dia menjual ikannya lewat pasar-pasar yang ada di situ. Sekarang nggak lagi, ada kolektor di situ. Karena kualitas ikannya jadi bagus, karena di situ ada pabrik es yang kita bangun. Lalu kemudian mereka juga punya logistik ya, dia mudah untuk mendapatkan logistik perbekalan melaut,” kata Trenggono.
Baca Juga:
Fasilitas yang tersedia di Binyeri mencakup pabrik es, cold storage, bengkel kapal, SPBU khusus kapal nelayan, dermaga tambatan, sentra kuliner, hingga taman wisata. Kelengkapan ini, menurut Trenggono, membuat nelayan tidak lagi pusing mengurus logistik sebelum melaut maupun setelah pulang membawa hasil tangkapan.
“Kalau kapalnya rusak juga mudah untuk diperbaiki, ada bengkelnya di situ. Bahan bakar untuk mereka melaut juga mudah didapat. Nah, sehingga ikan yang didapat ini fresh. Karena dia fresh, langsung bisa disimpan di dalam cold storage,” ujar Trenggono.
Pola kerja nelayan di Binyeri rata-rata satu hingga dua hari melaut per trip. Begitu mereka kembali ke darat, kolektor sudah menunggu di lokasi untuk mengambil hasil tangkapan langsung dari cold storage.
“Kolektornya di situ sudah ready. Jadi setiap mereka pulang, one day fishing rata-rata, one day, two days gitu. Begitu kembali dia bawa ikannya langsung disimpan di cold storage. Dari situ kemudian dikumpulkan sama kolektor yang sudah ada, lalu diekspor,” tutur dia.
KKP juga menyiapkan tahap berikutnya: fasilitas mini processing di setiap kampung nelayan. Teknologi slurry ice, yakni es cair berbutir halus yang menjaga suhu ikan lebih merata dibanding es batu biasa, akan dikombinasikan dengan lini pengemasan sederhana agar produk perikanan bisa langsung siap jual dalam kondisi vakum dan terpak.
“Nanti ke depan, kita harapkan dengan adanya manajer Kampung Nelayan ini yang mengelola, di situ akan kita install lagi namanya itu mini processing. Seperti kayak dia langsung divakum, dipacking dan seterusnya,” kata Trenggono. Model pengelolaan serupa, ia catat, sudah lama diterapkan di Jepang, Australia, dan Korea Selatan.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman