Teras News — Jumat (25/7) pukul 05.50 WIB, warga Jakarta bangun dengan udara yang jauh dari layak hirup. Data platform pemantau kualitas udara IQAir mencatat indeks kualitas udara (AQI) ibu kota menyentuh angka 179, masuk kategori tidak sehat, sekaligus menempatkan Jakarta di posisi kedua kota dengan udara terburuk di dunia pagi itu.
Konsentrasi polutan PM2.5 tercatat 84 mikrogram per meter kubik. Angka ini melampaui ambang batas aman dan berpotensi merugikan kelompok sensitif, termasuk penderita asma, gangguan paru-paru, lansia, ibu hamil, serta anak-anak.
Jakarta Kalah Tipis dari Lahore, Ungguli Kinshasa dan Dhaka
Di daftar kota paling berpolusi pagi itu, Jakarta hanya tertinggal dari Lahore, Pakistan, yang mencatat AQI 195. Di bawah Jakarta, Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) berada di angka 176, disusul Dhaka (Bangladesh) 145, dan Kampala (Uganda) 144.
Baca Juga:
IQAir merekomendasikan warga Jakarta menghindari aktivitas luar ruangan. Bagi yang terpaksa keluar, kenakan masker. Jendela dan ventilasi rumah sebaiknya ditutup rapat untuk membatasi masuknya udara kotor dari luar.
Pemprov DKI dan BMKG Kembangkan Sistem Peringatan Dini Polusi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah membangun sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS). Sistem ini dirancang untuk memprediksi kondisi polusi udara secara lebih akurat sebelum kualitas udara benar-benar memburuk.
Pengembangan EWS masuk dalam rencana jangka panjang Pemprov DKI untuk menekan dampak pencemaran udara. Kelompok yang diprioritaskan mendapat manfaat dari sistem ini adalah mereka yang paling rentan: anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan kronis.
Dengan prakiraan kualitas udara yang lebih presisi dan mudah diakses publik, warga diharapkan bisa mengambil tindakan pencegahan lebih awal, mulai dari memakai masker saat keluar rumah hingga membatasi olahraga atau aktivitas fisik di area terbuka.
Kategori AQI: Dari Baik hingga Berbahaya
Skala AQI yang digunakan IQAir membagi kualitas udara ke dalam lima tingkatan. Kategori baik berada di rentang PM2.5 0-50, artinya tidak berdampak pada kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan. Kategori sedang (PM2.5 51-100) mulai berpengaruh pada tumbuhan sensitif. Kategori tidak sehat, tempat Jakarta berdiri hari ini, sudah membahayakan kelompok sensitif.
Dua tingkat di atasnya lebih serius. Sangat tidak sehat (PM2.5 200-299) dapat merugikan kesehatan segmen populasi yang lebih luas, sedangkan berbahaya (PM2.5 300-500) berpotensi menimbulkan dampak kesehatan berat bagi seluruh populasi tanpa terkecuali.
Kondisi udara Jakarta yang berulang kali masuk daftar terburuk dunia membuat pengembangan EWS oleh Pemprov DKI dan BMKG kini dinantikan banyak pihak, terutama warga yang setiap harinya harus beraktivitas di luar ruangan.
Editor: Arif Budiman