Teras News — Jutaan pelaku industri kecil menengah di Indonesia kini punya peluang lebih besar untuk memasarkan produk mereka di jaringan toko ritel modern. Kemudahan akses distribusi yang selama ini menjadi kendala utama IKM mulai dibuka lewat jalur kerja sama antara pemerintah dan salah satu jaringan ritel terbesar di Indonesia.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Daya Intiguna Yasa Tbk, perusahaan di balik jaringan toko MR.DIY, pada Senin (18/5) di Jakarta. Kerja sama ini melibatkan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) sebagai pihak dari pemerintah.
Produk IKM Masuk Rak MR.DIY
Ruang lingkup kerja sama ini cukup luas. Produk yang bisa masuk meliputi perlengkapan rumah tangga, elektronik, alat tulis kantor, alat olahraga, aksesori kendaraan, kerajinan, perkakas, mainan, perhiasan, kosmetik, hingga perlengkapan komputer dan telepon seluler. Kerja sama berlaku selama dua tahun dan mencakup pertukaran data, fasilitasi promosi, pengembangan jejaring kemitraan, serta bimbingan teknis dan pendampingan pemasaran.
Baca Juga:
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kolaborasi ini sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat ekosistem industri nasional. “Melalui kerja sama ini, kami ingin menghadirkan ekosistem pemasaran yang lebih kuat agar produk IKM Indonesia semakin kompetitif, memiliki akses distribusi yang lebih luas, dan mampu menjangkau pasar yang lebih besar,” ujarnya.
IKM Sumbang 21,71 Persen Output Industri Nasional
Angkanya tidak kecil. Berdasarkan data BPS tahun 2025, jumlah IKM di Indonesia mencapai 4,43 juta unit usaha, atau sekitar 99,79 persen dari total industri nasional. Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita mencatat bahwa pada triwulan I 2026, IKM menyumbang 21,71 persen dari total output industri nasional.
Reni menegaskan IKM bukan sekadar pelengkap struktur industri. Sektor ini juga berperan sebagai penggerak ekonomi daerah yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Manufaktur Tumbuh 5,04 Persen di Tengah Tekanan Global
Agus menambahkan, kinerja industri pengolahan nasional secara keseluruhan masih solid. Pada triwulan I 2026, sektor ini tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2026 berada di level 51,75, yang berarti masih dalam zona ekspansif.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional,” kata Agus.
Tekanan dari luar tetap ada. Agus menyebut geopolitik global dan krisis energi dunia ikut memengaruhi biaya logistik dan harga bahan baku domestik. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat pasar dalam negeri. “Kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat pasar domestik dan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sebagai fondasi utama memperkuat daya saing industri nasional, khususnya sektor IKM,” tegasnya.
Dengan MoU ini, pemerintah berharap produk IKM tidak lagi terhenti di pasar tradisional atau platform daring saja, melainkan bisa bersaing langsung di rak-rak toko ritel modern yang tersebar di seluruh Indonesia.
Editor: Ratna Dewi