Teras News — 7 TCF (trillion cubic feet) gas dan 375 juta barrel oil equivalent kondensat — itulah total potensi cadangan yang tersimpan di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, berdasarkan gabungan temuan dua sumur eksplorasi yang kini jadi pembicaraan serius di DPR.
Angka itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis. Rizwi merinci, Sumur Geliga 1 menyimpan sekitar 5 TCF gas plus 300 juta MMBOE (million barrels of oil equivalent) kondensat. Sumur Gula, yang berada di kawasan yang sama, menambah 2 TCF gas dan 75 juta MMBOE kondensat.
“Dengan demikian, total produksi potensinya adalah 7 TCF gas dan 375 juta barrel oil equivalent kondensat,” kata Rizwi di hadapan anggota dewan.
Baca Juga:
Produksi Gabungan Geliga-Gula Bisa Capai 1.000 MMSCFD
Jika dua sumur itu dikembangkan bersama, Rizwi menyebut kapasitas produksinya berpotensi menyentuh 1.000 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day) gas dan 80.000 BOEPD (barrels of oil equivalent per day) kondensat. MMSCFD adalah satuan laju alir gas harian yang lazim dipakai dalam industri migas.
Temuan Sumur Geliga-1 pertama kali diumumkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (21/4). Ketika itu, Bahlil menyebut potensi sumur tersebut sekitar 5 triliun kaki kubik gas serta 300 juta barel kondensat.
“Di era kondisi dunia yang hampir semua dunia sekarang menjaga cadangan mereka, sekali lagi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa (penemuan) ini anugerah yang diberikan dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” ujar Bahlil saat itu.
ENI Italia Pegang 82 Persen Saham Blok Ganal
Sumur Geliga-1 berada di Wilayah Kerja Ganal, yang dioperasikan ENI, perusahaan energi asal Italia. ENI menguasai 82 persen porsi kepemilikan di blok tersebut, sedangkan 18 persen sisanya dipegang Sinopec, perusahaan migas milik pemerintah China.
Keterlibatan ENI di blok ini, menurut Bahlil, menunjukkan potensi migas Indonesia masih terbuka lebar, khususnya di Cekungan Kutai yang terus memperlihatkan prospek menjanjikan bagi investor eksplorasi global.
Dalam rapat yang sama, Rizwi juga menyinggung sejumlah proyek strategis nasional lain di sektor hulu migas yang tengah berjalan, di antaranya South Andaman, Asap Kido Merah, Tangguh UCC Project, Abadi Project, dan Indonesia Deepwater Development.
Pengembangan Cekungan Kutai kini memasuki fase yang lebih serius setelah angka-angkanya dipaparkan resmi di forum legislatif. Publik dan pelaku industri menunggu kepastian jadwal pengembangan serta skema pembiayaan infrastruktur yang sebelumnya disebut masih menjadi salah satu kendala utama untuk merealisasikan potensi besar kawasan tersebut.
Editor: Surya Dharma