Kesehatan

Belum Ada Kasus Hantavirus di Jawa Tengah Sejak 2023, Dinkes Siagakan 8 RS dan 883 Puskesmas

5
×

Belum Ada Kasus Hantavirus di Jawa Tengah Sejak 2023, Dinkes Siagakan 8 RS dan 883 Puskesmas

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (19/5/2026), Dinas Kesehatan Jawa Tengah memastikan tidak ada satu pun kasus positif Hantavirus yang terdeteksi di provinsi ini sepanjang Januari hingga Mei 2026. Meski begitu, Dinkes tidak mengendurkan kewaspadaan. Delapan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah disiagakan, dan ratusan puskesmas mulai diedukasi menghadapi kemungkinan kemunculan penyakit yang disebarkan tikus ini.

“Hantavirus ini merupakan reemerging disease, penyakit yang dulu pernah muncul kemudian muncul kembali. Di Jawa Tengah terakhir dilaporkan pada 2023, dan sampai sekarang belum ada kasus baru,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Zulfachmi Wahab.

Kasus Terakhir Muncul di Pelabuhan Demak pada 2023

Kasus Hantavirus sebelumnya di Jawa Tengah ditemukan di wilayah pelabuhan Kabupaten Demak. Pelabuhan memang menjadi area berisiko tinggi karena populasi tikus yang padat. Zulfachmi mengingatkan warga yang beraktivitas di kawasan semacam itu untuk lebih berhati-hati.

Penularan terjadi lewat air liur, urine, dan kotoran tikus yang terinfeksi. Kontak langsung dengan media tersebut bisa menginfeksi manusia, begitu pula dengan menghirup partikel kotoran tikus yang telah mengering dan beterbangan di udara. Virus ini menyerang ginjal dan sistem pernapasan.

Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, dan bercak merah pada selaput mata. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi perdarahan dan gagal ginjal.

“Kalau ada gejala seperti demam, nyeri perut, bercak merah di mata, atau tanda perdarahan, segera periksa ke fasilitas kesehatan, agar tidak jatuh pada stadium gagal ginjal,” tegas Zulfachmi.

883 Puskesmas Akan Dibekali Lewat Program Jumat Pintar

Dinkes Jawa Tengah tidak menunggu kasus muncul dulu baru bergerak. Seluruh 883 puskesmas se-Jawa Tengah akan dikumpulkan dalam program edukasi bernama “Jumat Pintar” untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali dan menangani Hantavirus sejak dini.

Tiga rumah sakit rujukan utama yang ditetapkan adalah RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Purwokerto, dan RS Dr Moewardi Surakarta. Ketiganya merupakan bagian dari delapan RS milik Pemprov Jateng yang disiagakan atas arahan Gubernur Ahmad Luthfi.

Diagnosis Hantavirus harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan PCR dan serologis di rumah sakit rujukan, sehingga kecepatan merujuk pasien menjadi faktor kritis. “Semakin cepat dikenali dan diobati, maka angka kematian akan semakin rendah,” kata Zulfachmi.

Belum Ada Vaksin, Kebersihan Lingkungan Jadi Kunci

Hingga kini vaksin untuk Hantavirus belum tersedia. Zulfachmi menegaskan, penyakit ini masih bisa disembuhkan asalkan terdeteksi lebih awal.

Warga diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menutup celah masuk tikus ke rumah. Mencuci tangan secara rutin, memakai alat pelindung diri saat berada di area dengan banyak tikus, serta menjaga daya tahan tubuh lewat pola hidup sehat juga menjadi rekomendasi yang Dinkes sampaikan kepada masyarakat.

Dengan tidak adanya kasus baru sejak 2023, Dinkes Jawa Tengah meminta warga tidak panik. Yang terpenting, kenali gejalanya lebih awal dan segera cari pertolongan medis jika ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Penulis: Siti Rahma
Editor: Ratna Dewi