Teras News — Sebanyak 500 pelajar dan mahasiswa mengunjungi Istana Negara pada Selasa (19/5) dalam program “Istana untuk Anak Sekolah”, sebuah kegiatan yang memberi kesempatan generasi muda belajar langsung di pusat pemerintahan Indonesia.
Peserta terdiri atas sekitar 200 mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Budi Luhur (UBL), ditambah 300 siswa dari SMPN 94 dan SMPN 4 Jakarta.
Ratusan Siswa SMP Jakarta Masuk Kawasan Istana
Bagi para siswa SMP, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan sekolah biasa. Mereka mendapat akses ke kawasan Istana Negara, tempat yang dalam keseharian hanya bisa mereka lihat dari luar pagar atau layar televisi. Program ini dirancang agar siswa dan mahasiswa bisa merasakan langsung suasana jantung pemerintahan Republik Indonesia.
Baca Juga:
Antusiasme peserta terlihat sejak kegiatan dimulai. Para mahasiswa dari UGM dan UBL yang datang dari luar Jakarta pun turut menikmati pengalaman yang jarang bisa diakses publik umum ini.
Program Rutin yang Dibuka untuk Kalangan Pendidikan
“Istana untuk Anak Sekolah” bukan kali pertama digelar. Program ini merupakan kegiatan yang secara berkala membuka pintu Istana Negara bagi pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah dan institusi pendidikan di Indonesia. Tujuannya adalah mendekatkan generasi muda dengan simbol dan fungsi pemerintahan negara secara langsung, bukan hanya melalui buku teks.
Keikutsertaan mahasiswa perguruan tinggi seperti UGM, yang berbasis di Yogyakarta, menunjukkan bahwa program ini tidak hanya menyasar siswa dari Jakarta atau sekolah-sekolah di sekitar Istana.
Bagi 300 siswa SMPN 94 dan SMPN 4 Jakarta, kunjungan ini menjadi pengalaman yang sulit didapat di luar program resmi semacam ini. Kawasan Istana Negara tidak terbuka untuk kunjungan umum secara bebas, sehingga program seperti ini menjadi satu-satunya jalur resmi bagi pelajar untuk menginjakkan kaki di sana.
Program “Istana untuk Anak Sekolah” terus menarik minat dari berbagai institusi pendidikan yang ingin mengikutsertakan siswa dan mahasiswanya dalam kunjungan serupa ke depan.
Editor: Ratna Dewi