Berita

Dua Hari Tanpa Nasi di Program MBG Nabire, Ubi dan Singkong Gantikan Nasi demi Selamatkan Dagangan Mama Papua

5
×

Dua Hari Tanpa Nasi di Program MBG Nabire, Ubi dan Singkong Gantikan Nasi demi Selamatkan Dagangan Mama Papua

Sebarkan artikel ini

Teras News — Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, memberlakukan kebijakan dua hari tanpa nasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak dua bulan terakhir. Kebijakan ini lahir dari satu masalah nyata: hasil bumi mama-mama Papua membusuk karena tidak ada yang membeli.

Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Nabire, Marsel Asyerem, mengungkapkan keputusan itu diambil setelah pihaknya turun langsung ke Pasar Sore Tapiyoka, Distrik Nabire Kota. Di sana, para penjual sayur perempuan Papua mengadukan nasib mereka: dagangan tidak laku, sisa sayuran membusuk, dan pendapatan harian habis hanya untuk ongkos transportasi.

“Dari hasil dialog di lapangan, banyak komoditas pertanian lokal tidak laku hingga membusuk. Ini yang menjadi perhatian kami,” kata Marsel, Selasa.

Rata-rata pedagang di pasar itu hanya berhasil menjual tiga hingga lima ikat sayuran per hari. Pendapatan mereka berkisar Rp15.000 hingga Rp25.000, angka yang langsung ludes untuk biaya transportasi pulang pergi ke pasar. Tidak ada sisa untuk kebutuhan rumah tangga.

Ubi, Singkong, dan Keladi Masuk Menu MBG

Skema dua hari tanpa nasi mengalihkan sumber karbohidrat pada hari-hari tertentu ke pangan lokal: ubi, singkong, dan keladi. Porsi sayuran dalam menu MBG turut ditingkatkan. Seluruh dapur MBG di Nabire diwajibkan membeli bahan baku dari pedagang lokal.

“Seluruh dapur MBG kami minta wajib membeli dan menyerap hasil bumi dari pedagang lokal agar produk mereka tidak terbuang,” ujar Marsel.

Kebijakan ini merupakan eskalasi dari program sebelumnya yang hanya menerapkan satu hari tanpa nasi. BGN Nabire menaikkan frekuensinya menjadi dua hari setelah menilai dampaknya terhadap penyerapan pangan lokal perlu diperbesar.

Dua Bulan Berjalan, BGN Berharap Kesejahteraan Pedagang Lokal Ikut Terangkat

Program ini sudah berjalan dua bulan. Marsel berharap kebijakan itu tidak berhenti sebatas urusan gizi anak, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kecil di tingkat paling bawah.

“Akibatnya mereka tidak memiliki sisa penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga,” katanya, menggambarkan kondisi para pedagang sebelum kebijakan ini diterapkan.

“Harapannya program ini benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Mama-mama Papua yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan komoditas pertanian skala kecil di Nabire kini menjadi salah satu sasaran langsung dari kebijakan penyerapan pangan lokal dalam program MBG. BGN Nabire menempatkan mereka bukan sekadar penerima manfaat gizi, melainkan pemasok aktif yang produknya harus terserap oleh dapur-dapur MBG di wilayah tersebut.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Surya Dharma