Berita

Lahan Pertanian Tabanan Makin Tergerus, Petani Panen Tiga Kali Setahun Terancam Alih Fungsi

11
×

Lahan Pertanian Tabanan Makin Tergerus, Petani Panen Tiga Kali Setahun Terancam Alih Fungsi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 5,82 persen sepanjang 2025, ditopang sektor akomodasi dan kuliner yang terus mekar. Namun di balik angka itu, Kabupaten Tabanan, yang selama ini dikenal sebagai lumbung padi Bali, menghadapi tekanan yang jauh lebih sunyi: lahan sawah produktif perlahan berpindah tangan untuk kepentingan pariwisata.

Para petani Tabanan yang masih aktif memanen padi hingga tiga kali dalam setahun kini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, tawaran alih fungsi lahan datang semakin deras seiring meningkatnya kebutuhan akan hotel, vila, penginapan, dan usaha kuliner. Di sisi lain, mereka masih menggantungkan hidup pada hamparan sawah yang diwarisi turun-temurun.

Pariwisata Tumbuh, Sawah Tabanan Kian Diincar

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat pertumbuhan ekonomi daerah itu sebesar 5,82 persen pada 2025. Lapangan usaha penyediaan akomodasi serta makan dan minum menjadi tulang punggung angka tersebut, mendorong permintaan ruang fisik yang terus meningkat.

Ruang itu harus dicari dari suatu tempat. Tabanan, dengan hamparan sawah irigasi yang subur, menjadi incaran.

Kabupaten ini selama ini menyuplai sebagian besar kebutuhan beras Bali. Petani di sana terbiasa dengan ritme tiga kali panen per tahun, sebuah produktivitas yang tidak banyak ditemui di daerah lain. Tapi tekanan pembangunan sarana pariwisata mulai mengubah peta pertanian yang sudah terbentuk selama puluhan tahun.

Kepastian Harga Gabah Jadi Pertimbangan Petani Bertahan

Bagi petani yang memilih tetap bertani, keputusan itu bukan semata soal tradisi. Kepastian penyerapan gabah menjadi pertimbangan nyata. Selama hasil panen masih bisa diserap pasar dengan harga yang layak, sawah masih worth it untuk dipertahankan.

Namun kepedulian terhadap masa depan juga ikut menahan mereka. Alih fungsi lahan pertanian bukan hanya soal hilangnya sawah, tetapi juga soal siapa yang akan menanggung kebutuhan pangan ketika lahan produktif terus menyusut.

Dilaporkan Antara, derasnya gelombang alih fungsi lahan di Tabanan belakangan ini semakin mengkhawatirkan kalangan petani yang masih aktif. Kepastian penyerapan gabah dan kepedulian terhadap masa depan disebut menjadi faktor utama yang membuat sebagian dari mereka memilih bertahan menggarap sawah.

Dua Kepentingan yang Sulit Dipertemukan

Pariwisata memang membawa manfaat ekonomi yang luas bagi Bali. Lapangan kerja terbuka, pendapatan daerah meningkat, dan usaha kecil ikut terangkat. Tapi kebutuhan lahan untuk fasilitas wisata dan kebutuhan mempertahankan lahan pangan produktif adalah dua kepentingan yang tidak mudah berjalan beriringan.

Tabanan bukan kasus pertama di Indonesia di mana daerah penghasil pangan terjepit antara pertanian dan pembangunan. Pola serupa pernah terjadi di sejumlah daerah sentra pertanian lain yang berbatasan langsung dengan kawasan wisata berkembang pesat.

Yang membedakan Tabanan adalah statusnya sebagai lumbung padi Bali, sebuah peran strategis yang, jika hilang, tidak bisa begitu saja digantikan oleh daerah lain dalam jangka pendek.

Keputusan petani Tabanan dalam beberapa tahun ke depan, apakah bertahan menggarap sawah atau menjual lahan, akan menentukan apakah Bali masih bisa menyebut Tabanan sebagai lumbung padinya.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Ratna Dewi